[Video] Pengacara PT Daesol Indonesia Marah-Marah SampaiInjak Karpet Shalat

Category: Uncategorized 11 0
pengajian buruh
Buruh melakukan pengajian saat sedang mogok kerja, 21 Oktober 2015. Foto: AY.

Solidaritas.net, Bekasi – memasuki hari kedua. Tidak seperti hari pertama di mana buruh dilarang masuk ke area produksi, kini buruh diizinkan melakukan pemogokan di dalam pabrik.

Pihak pengusaha menyewa sejumlah pengacara dan preman untuk mengatasi pemogokan buruh tersebut. Jam 6 sore WIB, pengacara yang diketahui bernama Frans berusaha membubarkan pemogokan buruh. Padahal, pemogokan tidak memiliki batas waktu sampai jam 6 sore sebagaimana halnya unjuk rasa. Di dalam surat pemberitahuan, buruh mencantumkan lama mogok selama satu bulan.

Saking marahnya, pengacara ini menginjak alat shalat yang akan dipakai buruh untuk shalat magrib. Seorang buruh berusaha mengamankan alat shalat tersebut, tapi tidak berhasil menghentikan kemarahan pengacara tersebut.

“Ini buat shalat, Pak, buat shalat,…” kata buruh, berusaha mencegah.

Frans mundur, sambil terus marah-marah.

“Kamu mengganggu investasi di sini, saya punya tanggung jawab. Silahkan shalat saya hargai, tapi tinggalkan tempat ini, ini hak perusahaan. Kamu punya tuntutan, silahkan kita di pengadilan atau di Disnaker…,” bentaknya.

Diketahui, PT. Daesol Indonesia adalah perusahaan subkontraktor yang memproduksi sun visor mobil untuk Toyota, General Motors dan Daihatsu. Kode etik (Code of Conduct) Toyota yang menyatakan bahwa Toyota menghormati hukum yang berlaku di setiap negara serta berkomitmen untuk memajukan ekonomi dan sosial masyarakat. General Motors juga mempunyai kode etik untuk pemasoknya (supply chain responsibility) dengan mengharuskan perusahaan pemasok mematuhi hukum yang berlaku di negeri-negeri tujuan atau yang berhubungan dengan manufaktur, label, transportasi, impor, ekspor, lisensi, persetujuan atau sertifikasi barang atau jasa.

Kondisi kerja PT. Daesol Indonesia bertentangan dengan kode etik Toyota dan peraturan untuk pemasok General Motors. Di Indonesia, Toyota menguasai pangsa pasar sebesar 33 persen, tapi peningkatan profit Toyota tidak diikuti dengan peningkatan kesejahteraan buruh di perusahaan subkontraktornya, seperti kondisi yang terjadi di PT Daesol Indonesia saat ini.

 

https://youtu.be/R2rVPs8SEn8

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close