Tuntut Gaji Berujung Hukuman Cambuk

Category: Uncategorized 2 0

Solidaritas.net – 50 pekerja konstruksi dilaporkan dihukum penjara dan cambuk sebanyak 300 kali setelah melakukan protes atas penunggakan gaji. Aksi protes tersebut berujung pada pengrusakkan fasilitas umum dan kerusuhan. Demikian dilaporkan oleh wartawan BBC urusan Arab, Sebastian Usher pada 4 Januari 2017.

Foto ilustrasi (fair use). Sumber: Now.mmedia.me 

Para buruh yang mengalami nasib naas ini bekerja pada perusahaan Saudi Binladin. Perusahaan ini didirikan 80 tahun lalu oleh ayah dari Osama Bin Laden.

Ekonomi Arab Saudi terguncang akibat penurunan harga minyak dunia sejak tahun lalu. Perusahaan-perusahaan di Arab Saudi terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ratusan ribu buruh dan menunggak pembayaran gaji buruh. Buruh migran yang sangat bergantung pada gajinya, terlantar.

Penderitaan tersebut berkembang menjadi kemarahan, protes dan kerusuhan. Buruh membakar sejumlah bus milik perusahan Saudi Binladin. Sayangnya, Pemerintah Arab Saudi meresponnya dengan hukuman penjaran dan hukuman cambuk.

Kebijakan ini menandakan lemahnya penghormatan terhadap hak asasi manusia (HAM) dan perlindungan terhadap buruh migran di Arab Saudi. Padahal, Arab Saudi telah meratifikasi Konvensi Anti Penyiksaan Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 27 September 1997.

Dalam Konvensi Anti Penyiksaan 1985 dijelaskan penyiksaan adalah setiap perbuatan yang dilakukan secara sengaja yang menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat baik jasmani dan rohani seseorang. Penyiksaan dilakukan untuk memperoleh pengakuan, mengancam atau alasan diskriminasi atas sepengatahuan pejabat publik.

Negara yang meratifikasi konvensi ini diwajibkan mengambil langkah-langkah legislatif, administrasi, hukum ataupun langkah-langkah efektif lainnya untuk mencegah tindak penyiksaan di wilayah hukumnya. Pengecualian tidak diizinkan dalam keadaan apapun, baik dalam keadaan perang, ketidakstabilan politik maupun keadaan darurat lainnya untuk membenarkan penyiksaan.

Pada tahun 2015, Amnesty International melaporkan Arab Saudi adalah pelanggar hak asasi manusia (HAM) terburuk di dunia. Alasan di antaranya adalah maraknya penyiksaan dan perlakuan semena-mena terhadap buruh migran. Narapidana di Arab Saudi kerap disiksa untuk mendapatkan pengakuan tanpa penyelidikan lebih lanjut. Dengan pengakuan yang diperoleh dari siksaan itu, para narapidana mendapatkan hukuman yang lebih kejam lagi, hingga hukuman mati.

Tahun lalu 300 ribu buruh migran dideportasi ke negeri asalnya karena pada masa krisis prioritas lapangan pekerjaan diberikan kepada warga Arab Saudi. Dalam proses deportasi, buruh ditempatkan di penampungan yang tidak manusiawi dengan sedikit makanan dan air.

Hukuman cambuk terhadap para buruh migran ini hanya menambah daftar panjang pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara Arab Saudi. Sebelumnya, seorang blogger bernama Raif Badawi dikenakan hukuman cambuk 1000 kali dan penjara 10 tahun dengan dakwaan menghina pengadilan Arab Saudi.

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close