Sepekan Memprotes Pemerintah Australia yang Mencuri Minyak Timor Leste

Category: Uncategorized 7 0

Jakarta – Aksi solidaritas terhadap Timor Leste yang perairannya diklaim oleh Pemerintah Australia, dilakukan juga dalam bentuk protes online selama lima hari. Pekan protes online
internasional berlangsung selama 21-25 Maret 2016. Aksi protes dilakukan dari
komputer, telepon (seluler) atau tablet dengan cara sebagai berikut:

1) Ambil foto dirimu sendiri yang memegang tanda
bertuliskan “Australia: Hands Off Timor’s Oil!” atau “Australia:
Median Line Now!”, taruh nama dan lokasimu (contoh: John, New York, NY,
USA)

2) Posting foto selfimu di Facebook pada halamanmu
sendiri atau di laman event/acara yang linknya dicantumkan di bawah, dan/atau
di Twitter dan/atau Instagram. Pastikan menggunakan tagar ‪#‎medianlinenow
dan ‪#‎HandsOffTimorsOil.
Lihat contoh fotonya dan tanda yang dapat dicetak dalam format Word, PDF di http://bit.ly/timorseaDi Twitter, sertakan @TurnbullMalcolm dan
@etan009; di Instagram sertakan @turnbullmalcolm dan @etan009. Jika tidak memiliki
Instagram, Twitter dan Facebook, bisa mengirim foto via email dengan catatan
harus memperhatikan ukuran file foto, foto yang Anda kirim akan diposting.

Setelah foto selesai diposting, kirim email link
postinganmu ke etan@etan.org

Protes rakyat Maubere (Timor Leste) terhadap pemerintah
Australia pada 22 Maret 2016 lalu. Foto: DIK.

Selama ini Australia telah mengeruk laut Timor Leste yang kaya akan minyak. Dalam referendum pada 30 Agustus 1999, rakyat  Maubere menentukan sikap untuk menolak integrasi dengan Indonesia dan menyatakan dirinya sebagai bangsa merdeka dengan nama Timor Leste. Namun, Australia tidak bersedia untuk mematuhi batas maritim berdasarkan garis tengah (median line) laut di antara kedua negeri tersebut.

Sebelum kemerdekaan, terjadi kesepakatan pembagian 50:50 antara Indonesia dan Australia pada tahun 1972. Malah, pada 11 Desember 1991 Australia dan Indonesia memberikan kontrak bagi produksi minyak kepada Philips Pertroleum (kemudian menjadi Conoco Philips), Royal Dutch Shell, Woodside Australian Energy (kemudian menjadi Woodside Petroleum) guna mengeksplorasi dan mengeksploitas potensi alam di Celah Timor.
Philips
Petroleum melakukan eksplorasi dan eksploitasi pada ladang minyak dan gas
Bayu-Undan. Timor Leste mendapatkan 90% dari royaltinya, namun, cadangan minyak
di ladang Bayu-Undan ini sudah akan habis.
Woodside
Australian Petroleum bersama BHP dan Shell mengekspoitasi cadangan minyak di
ladang Laminaria-Corallina. Mereka mengeksploitasi lebih dari 100 juta barel.
Pemerintah Australia mendapatkan keuntungan lebih dari US$900 juta. Ladang gas
ini hampir habis sedangkan rakyat Timor Leste tak mendapatkan apa-apa.
Sedangkan
ladang minyak dan gas lainnya, Greater Sunrise, yang ditemukan pada 1975, dan
akan dieskploitasi, namun dinyatakan sesuai dengan kesepakatan 1989, 20%
potensi gas nya berada di daerah JPDA (Daerah Pertambangan Minyak bersama)
sedangkan 80% nya berada di wilayah maritim Australia. Meski kesepakatan 1989
tersebut ilegal, paska terbentuknya Republik Demokratik Timor Leste, pemerintah
Australia tetap menggunakan kesepakatan tersebut dan tidak mengindahkan
tuntutan dari Negara yang baru saja lahir itu.
Berdasarkan
hal tersebut, protes terhadap Australia dipandang perlu untuk dilakukan. Rakyat
Timor Leste juga sudah beberapa kali melancarkan aksi massa ke Kedutaan Besar
Australia di Dili untuk memprotes hal ini. Kali ini, protes akan dilakukan
secara online. Meskipun begitu, adanya seruan protes online bukan berarti
mengesampingkan aksi massa. Keduanya sama pentingnya. Buktinya, sejumlah aksi massa diorganisir di Dili pada 22 Maret 2016, serta Jakarta dan Melbourne pada 24 Maret 2016.
Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close