Respon Buruh terhadap Hasil Pilkada Bekasi

Category: Uncategorized 14 0

Bekasi – Sejumlah respons baik positif maupun negatif disuarakan buruh terkait dengan hasil sementara Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Bekasi yang digelar pada 15 Februari 2017. Tidak sedikit juga dari mereka yang berharap agar bupati terpilih dapat membuat perubahan khususnya dalam bidang perburuhan.

Buruh Bekasi berdemo di depan kantor Bupati.
Foto: Solidaritas.net / CC-BY-SA-3.0

Dalam pilkada serentak 2017, kepemimpinan Kabupaten Bekasi diperebutkan lima pasangan calon. Dikutip dari Kumparan.com, hasil real count di Komisi Pemilihan Umum yang sudah mencapai 100 persen, menempatkan pasangan nomor urut lima, Neneng Hassanah Yasin bersama calon wakilnya, Eka Supria Atmaja sebagai peraih suara terbanyak. Mereka mendapatkan suara sebesar 39,83 persen.

Selanjutnya pasangan Sa’duddin dan Ahmad Dhani dengan suara 26,12 persen, lalu pasangan calon (Paslon) dari buruh Obon Tabroni dan Bambang meraih suara 17,57 persen. Ketiganya adalah pasangan yang berhasil memperoleh suara di atas 10 persen. Sementara itu, pasangan Meilina Kartika Kadir dan Abdul Kholik sebesar 9,60 persen, serta pasangan Iin Farihin dan Mahmud yang hanya meraih suara 6,88 persen.

Melihat pasangan Neneng dan Eka kembali unggul, buruh menyampaikan pendapatnya. Diantaranya ada yang kecewa karena Neneng kembali terpilih, alasannya selama ini Neneng tidak peduli dengan nasib buruh. Banyak pelanggaran ketenagakerjaan terjadi di Bekasi tetapi tidak terselesaikan dengan baik, Pemkab “lembek” dalam menangani kasus-kasus perburuhan sedangkan Neneng tidak pernah mau menemui buruh yang tengah berunjuk rasa.

“Harusnya bupati bisa menemui kami setiap kali kami menggelar aksi, itu untuk mendengarkan pendapat kita. Setiap kami aksi pasti Neneng tidak ada,” tutur salah seorang buruh, Susrianti

Dia juga kecewa karena setiap kali aksi selalu banyak polisi yang berjaga. Dia berpikir buruh dianggap sebagai penjahat sehingga harus mendapat pengawalan ketat. Padahal tujuan aksi tersebut sudah sangat jelas, untuk mengadukan pelanggaran ketenagakerjaan. “Buruh seperti penjahat, padahal kita ingin pendapat dan kemauan kaum buruh didengarkan kemudian dimusyawarahkan. Bukan dikawal ketat sama polisi sehingga kami tidak bisa bertemu bupati,” tambah dia.

Senada disampaikan Azwira Zoni. Dia berharap Neneng bisa bertemu buruh secara langsung. Tidak melalui perwakilannya. Azwira juga merasa tidak nyaman dikawal polisi ketika menggelar aksi, apalagi dia bersama buruh lainnya harus berdiri di luar pagar kantor bupati.

“Kami butuh Neneng yang menemui buruh, bukan wakilnya. Jangan juga meminta polisi mengawal aksi di halaman kantor bupati, sementara kami ditutupi pagar,” tuturnya.

Pada November lalu, dalam pengawalan kenaikan upah sempat terjadi aksi baku dorong antara polisi dengan buruh. Harapannya aksi saling dorong seperti itu tidak terjadi kembali. “Jangan seperti yang sudah-sudah, buruh sampai dorong-dorongan sama polisi,” harap Sanah.

Absennya Neneng menemui buruh adalah bukti bahwa ia sebagai bupati tidak berpihak pada buruh. Meskipun begitu, majunya Neneng sebagai calon bupati dan sempat menjabat sebagai bupati adalah suatu kemajuan tersendiri karena dia seorang perempuan namun hal itu tidak serta-merta membuat nasib buruh perempuan menjadi lebih baik.

“Harusnya dia bisa memperlakukan buruh perempuan lebih baik lagi, minimal meminimalisir pelanggaran atas hak-hak buruh perempuan,” tutur Medina.

Berbeda dengan itu, sebelumnya, setelah mengetahui adanya calon yang diusung dari buruh, ada pula berbagai harapan yang muncul. Buruh berharap Paslon Obama dapat menyelesaikan pelanggaran ketenagakerjaan di perusahaan kecil yang luput dari pengawasan pemerintah karena dipandang sebelah mata.

“Harapan saya, kesejahteraan buruh harus ditingkatkan. Pemerintah terutama Dinasker harus lebih mengontrol atau perketat pengawasan karena masih banyak pabrik-pabrik kecil yang upahnya masih di bawah UMK,” ujar Didik

Paslon dari buruh dapat membuat sistem pemerintahan menjadi lebih baik, terutama dalam perbaikan nasib buruh. “Dengan dipimpin buruh semoga pemerintahan bisa lebih baik dan nasib buruh bisa berubah. Saya mendukung calon bupati dari buruh,” kata Dadan, buruh lainnya.

Mereka berharap paslon bisa menghapuskan sistem kerja kontrak dan berbagai sistem kerja lainnya yang dinilai merugikan buruh. Pasalnya dia sudah nyaman bekerja di salah satu perusahaan di Kawasan Industri Newton Techno Park namun dia khawatir jika kontraknya tidak diperpanjang.

“Paslon dari buruh dapat mengatasi sistem kerja kontrak, outsourching dan magang supaya saya bisa diangkat menjadi buruh tetap” harap Atim

Senada dengan itu, Zarotul juga mengharapkan sistem kerja harian, magang, outsourching dan kontrak bisa dihapuskan karena sistem kerja semacam itu hanya melanggengkan upah murah. Di tempat dia bekerja, dia sebagai buruh harian tidak mendapatkan haknya. Sudah bekerja melebihi waktu yang ditentukan UU namun tak juga diangkat menjadi pekerja tetap.

“Paslon Obama harus bisa menghapuskan sistem kerja harian,” katanya

Selain itu, bisa menjamin kesejahteraan buruh perempuan, misalnya dengan mendorong setiap perusahaan untuk menyediakan ruang laktasi, memberikan hak cuti haid, hamil dan berbagai hal lainnya yang berhubungan dengan reproduksi. “Kesejahteraan buruh perempuan harus dijamin,” ujar Kartini.

Adanya perbaikan jalur transportasi, mengadakan pendidikan gratis, sembilan kebutuhan pokok (Sembako) yang murah juga menjadi harapan buruh. “Jalan yang rusak diperbaiki, sekolah gratis, sembako murah, kesehatan gratis, dan semoga pemerintah kedepan bisa membantu buruh yang sedang berkasus,” harap Sumiati.

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close