PPBI, Serikat Buruh “Merah” Pertama Masa Orde Baru

Category: Uncategorized 106 0

Serikat buruh “merah”, mungkin istilah ini agak janggal dan layak diperdebatkan. Namun, istilah serikat buruh “merah” memang realitas penyebutan yang ada di Indonesia. Janggal dan debatable, sebab, pada umumnya gerakan buruh internasional tidak membedakan serikat buruh berdasarkan “warna” politiknya, tapi atas dua hal: serikat buruh reformis atau kuning (pro pengusaha).

Salah seorang aktivis PPBI, Widji Thukul.

Dewasa ini, di Indonesia, kita bisa melihat berbagai serikat buruh “merah” dan jumlahnya tidak sedikit. Ada Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI), sebagai konferederasi buruh “merah” paling besar. Kemudian Konfederasi Perjuangan Buruh Indonesia (KPBI), Sentra Gerakan Buruh Nasional (SGBN), Konfederasi Serikat Nasional (KSN), Gabungan Serikat Buruh Indonesia (GSBI), Gabungan Solidaritas Perjuangan Buruh (GSPB), Serikat Buruh Demokratik Kerakyatan (SEDAR) dan lain sebagainya.

Masing-masing serikat memiliki prioritas politiknya sendiri-sendiri. Ada yang mempersiapkan rencana pembangunan partai, seperti yang sedang di lakukukan KPBI melalui rencana akuisisi Partai Buruh bersama Rumah Rakyat Indonesia, begitu pula KSN bersama Konfederasi Pergerakan Rakyat Indonesia (KPRI). Ada pula yang membangun konsolidasi politik demokrasi dan kiri. Ada juga yang sibuk memperbesar kekuatan organisasinya sendiri.

Serikat buruh “merah” bukan lah fenomena baru. Di masa Sukarno, ada Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI) yang berada di bawah pengaruh politik PKI. Kemudian ada Sentral Organisasi Buruh Republik Indonesia (SOBRI) yang merupakan sayap dari partai yang didirikan Tan Malaka, Partai Murba. Lalu, KBKI (Kesatuan Buruh Kerakjatan Indonesia) yang dekat dengan Partai Nasional Indonesia (PNI).

Setelah “kudeta merangkak” paska 30 September 1965 sebagian besar serikat-serikat buruh “merah” tersebut dilumpuhkan. Masa awal kekuasaan Orde Baru praktis tanpa keberadaan serikat buruh “merah”. Bahkan tanpa gerakan buruh pada umumnya.

Orde Baru hanya mengijinkan satu organisasi buruh, yakni: Serikat Pekerja Seluruh Indonesia, yang awalnya bernama Federasi Buruh Seluruh Indonesia (FBSI). Istilah “Buruh” dihapuskan dan diganti menjadi “pekerja” dan “karyawan”. Penggantian ini sejalan dengan gagasan Hubungan Industrial Pancasila (HIP), yaitu harmonisasi antara pekerja, pengusaha dan pemerintah.

Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI) adalah serikat buruh “merah” pertama yang berdiri pada masa Orde Baru. Namun, PPBI, bukan lah serikat buruh non SPSI pertama. Sebab, proyek pembangunan serikat buruh non SPSI pertama kali didirikan melalui Serikat Buruh Merdeka Setiakawan (SBMKS) pada tahun 1990, dimana H.J.C. Princen juga terlibat dalam proses pembangunannya. Kemudian ada Serikat Buruh Sejati Bogor dan Serikat Buruh Tangerang yang tak cukup jelas perkembangannya. Lalu, tahun 1992, SBSI (Serikat Buruh Sejahteran Indonesia) didirikan atas prakarsa Gusdur, Mochtar Pakpahan dan Rachmawati Soekarnoputri.

PPBI lahir setelah kongres pertama yang diselenggarakan pada 23 Oktober 1994 di Ambarawa, Jawa Tengah. Pembangunan PPBI dimulai dari deployment organiser-organiser mahasiswa yang mayoritas diantaranya berasal dari Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (SMID) ke kawasan-kawasan industri untuk melakukan pengorganisiran terhadap kaum buruh.

SMID sebenarnya bukan satu-satunya kelompok mahasiswa yang melakukan pengorganisiran terhadap buruh kala itu. Ada berbagai kelompok tertutup mahasiswa yang juga melakukan pengorganisiran terhadap buruh. Bahkan, ada yang mendaftar sebagai buruh pabrik di suatu perusahaan, agar bisa melakukan kontak dengan kaum buruh.

Pengorganisiran dilakukan di beberapa tempat seperti di Tandes di  Surabaya, PT. Great River di Tangerang, dan PT. Sritex di Sukoharjo. Penyair yang hilang, Widji Thukul, pernah terlibat pengorganisiran buruh bersama teman-teman mahasiswanya dari SMID di PT. Sritex. Dia mendapat luka pada mata kirinya karena dipopor senapan tentara saat berdemonstrasi bersama ribuan buruh PT. Sritex.

PT. Sritex adalah perusahaan tekstil ekspor yang memproduksi pakaian tentara Indonesia dan beberapa  negara luar. PPBI dipimpin oleh Dita Indah Sari yang kala itu juga berstatus mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. Sayangnya, hari ini, Dita Indah Sari menjabat sebagai Staff Ahli Menteri Tenaga Kerja.

Meski terdapat berbagai kritikan terhadap metode kerja PPBI, misalnya, PPBI dianggap terlalu radikal, atau hanya berfungsi sebagai kelompok penekan atau penyerang, dan dipimpin bukan oleh buruh tetap oleh organiser yang berasal dari mahasiswa. Namun, PPBI, adalah proyek serikat buruh pertama yang berupaya keluar dari mainstream kerja serikat buruh konvensional, yakni: hanya mengurus kesejahteraan buruh semata.

PPBI tidak memisahkan perjuangan ekonomi dan perjuangan politik. Apalagi, dalam masa kekuasaan Orde Baru saat itu, perjuangan ekonomi sulit tercapai karena setiap kali demonstrasi dihadapi dengan serangan aparat tentara dan  polisi. Karena itu, perluasaan demokrasi dengan menjatuhkan pemerintah Orde Baru, Soeharto, menjadi bagian yang terpisahkan dengan perjuangan tuntutan-tuntutan ekonomi. Misalnya, PPBI dalam berbagai tuntutannya juga mengangkat tuntuan Cabut Dwi Fungsi ABRI. Tuntutan ini membuat berang para pejabat-pejabat pemerintahan rejim Orde baru saat itu.

Namun, masa perjuangan PPBI tak berlangsung lama. Paska deklarasi Partai Rakyat Demokratik di Kantor YLBHI pada 22 Juli 1996, PPBI turut dibubarkan oleh rejim Soeharto. Sebab, PPBI yang merupakan ormas yang berada di bawah dan turut membentuk PRD dituduh sebagai biang keladi kerusuhan 27 Juli 1996.

Demo buruh PT Great River di DPR

PPBI sudah menorehkan sejarah penting pada gerakan buruh Indonesia paska Orde Baru. Meski mantan pimpinan PPBI, Dita Indah Sari, saat ini seringkali memosisikan diri membela kebijakan pemerintah yang pro pengusaha. Namun, pelajarang penting dari PPBI ialah bahwa serikat buruh tidak boleh melepaskan diri dari perjuangan politik, dalam hal ini perjuangan demokrasi. Dan tidak semata-mata perjuangan ekonomi buruh.

PPBI dengan metodenya yang radikal telah mengambil peran kepeloporan gerakan buruh dalam upaya memperjuangkan penumbangan tirani.***

Penulis:
Surya Anta – Aktivis Pusat Perjuangan Rakyat Indonesia (PPRI)

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close