Mahasiswa PEMBEBASAN Sula Demo Tuntut Pengusutan Kasus Kebakaran Pasar

Category: Uncategorized 27 0

Sula – Dalam rangka memperingati Hari Perempuuan Internasional (HPI), Pusat Perjuangan
Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan) Kepulauan Sula melakukan aksi
solidaritas untuk korban kebakaran pasar Basanohi Sanana, Kabupaten Kepulauan
Sula, Provinsi Maluku Utara Selasa(8/3/2016). Dalam aksinya, ibu-ibu Pedagang
Kaki Lima (PKL) korban kebakaran juga turut turun aksi, mereka bersama-sama
longmarch dari desa Mangon, Kecamatan Sanana hingga ke kantor Dinas Pengelolaan
Pasar.
Foto: Samsul
Pembebasan Kepulauan Sula
memandang,  ibu-ibu PKL memiliki peran
utama dalam memenuhi kebutuhan keluarga sehingga sangat penting bersolidaritas
untuk mereka pada momen hari perempuan internasional.
Ketua Pembebasan kolektif Kepulauan
Sula, Asri Tidore dalam orasinya menyatakan dukungan terhadap ibu-ibu PKL dan
mendesak peemerintah agar segera menyelesaikan masalah ini.

“Kami dari Pembebasan sangat
mengapresiasi dan mendukung sepenuhnya perjuangan Ibu-Ibu PKL yang sedang
menuntut hak ekonomi mereka agar bisa berdagang dengan nyaman dan layak untuk
bertahan hidup. Oleh karena itu, kami mendesak agar Pemda serius untuk
menyelesaikan persoalan kebakaran yang memakan 193 petak tempat berjualan di
Pasar Basanohi, jangan membiarkan begitu saja tanpa danya penyelesaian,”
teriaknya.

Pasar Basanohi terbakar pada 2
Februari 2015 lalu, namum sampai saat ini pemerintah belum menyediakan tempat
berjualan yang layak sebagai penggantinya. Dinilai, pemerintah setempat
bertindak tebang pilih karena hanya mempedulikan pedagang yang yang mampu
menyewa tempat seharga Rp5,000,000-7,000,000.
Pembebasan menduga, ada permainan
dibalik ini semua, khususnya ditingkat atas yakni di kantor pengelola pasar,
karena mereka hanya memanfaatkan pedagang yang memiliki modal besar sedangkan
pedagang yang memiliki modal kecil atau pedagang kecil diabaikan.
Sebelumnya, dalam rapat dengar
pendapat, DPRD berjanji akan memberikan ganti rugi sebesar Rp500 juta kepada
PKL korban kebakaran tetapi hingga kini dana tersebut tak kunjung dikucurkan.
Dalam aksinya massa meminta hearing atau dengar pendapat secara
terbuka dengan Kepala Pengelola Pasar untuk mengetahui lebih lanjut pembicaraan
tersebut, karena tidak ada lagi kabar untuk penyelesaian. Kondisi sempat
memanas ketika salah seorang pegawai kantor pasar keluar dan mengatakan kepala
dinas pasar belum masuk kantor dengan alasan ada kegiatan, ibu-ibu korban
kebakaran sangat marah dan hampir menyerang pegawai tersebut. mereka
berteriak-teriak.

“Bohong, jangan hanya kumpul uang
untuk makan tapi rajinlah berkantor, digaji tapi malas berkantor,” teriak
mereka.

Massa aksi mendesak kepala Pengelola
Pasar agar secepatnya menyediakan tempat yang layak bagi PKL korban kebakaran,
mendesak DPRD untuk membuktikan janjinya terkait bantuan anggaran 500 juta dan
hentikan diskriminasi terhadap PKL.
Kasus kebakaran ini terus mendapat
pengawalan dari Pembebasan dan juga para korban kebakaran, mereka membentuk Front
Peduli Korban Kebakaran. Pada Senin 14 Maret 2016, mereka kembali melakukan aksi dengan memboikiot kantor
Dinas Pengelola Pasar dan Ruang Komisi I, II, dan III DPRD Kepulauan Sula.
Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close