Komnas Perempuan: Masih Ada Traficking dalam Peringatan Hari Ibu, Perjuangan Perempuan Belum Tercapai

Category: Uncategorized 11 0
marianna amiruddin
Marianna Amiruddin.

Solidaritas.net, Jakarta – Pada 22 Desember atau yang dikenal sebagai hari ibu, Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin mengatakan, apabila peringatan hari Ibu masih diwarnai dengan banyaknya kasus trafficking, kata dia, maka hal itu menunjukkan kalau perjuangan ibu-ibu dan aktivis perempuan zaman dulu sampai sekarang belum tercapai.

Mariana mengatakan, hari Ibu berawal dari pertemuan organisasi perempuan dalam Kongres Perempuan Indonesia pertama, 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta. Dalam pertemuan bersejarah itu mereka membicarakan soal trafficking,  pernikahan dini, hak-hak perempuan yang belum terpenuhi, juga upaya perempuan untuk ikut serta memerdekakan bangsa Indonesia.

Sehingga, kata dia, apabila hari Ibu saat ini masih diwarnai dengan banyaknya kasus trafficking, maka itu menunjukkan kalau perjuangan ibu-ibu dan aktivis perempuan zaman dulu sampai sekarang belum tercapai. Isu-isu  perempuan termasuk trafficking harus diperjuangkan sebab ini isu nasional yang harus diperhatikan.

“Isu perempuan termasuk trafficking masih dianggap urusan wanita. Padahal itu merupakan urusan manusia yang harus diperhatikan pemerintah,” ujar Mariana dikutip dari Republika.co.id, Selasa (22/12/2015).

Untuk dikethaui, momentum hari perempuan Indonesia diubah menjadi peringatan hari Ibu melalui Dekrit Presiden Sukarno No. 316 tahun 1959.

Namun, sejak orde baru hingga sekarang, makna “Hari Ibu” telah terdegradasi menjadi sekedar puja-puji peran domestik kaum ibu. Padahal, dalam kongres perempuan pertama itu ada banyak masalah yang dibicarakan. Mulai dari pendidikan kaum perempuan, nasib anak yatim piatu dan janda, perkawinan anak-anak, reformasi undang-undang perkawinan Islam, pentingnya meningkatkan harga diri kaum perempuan sampai dengan kejahatan kawin paksa yang masih marak terjadi saat itu.

Beberapa tokoh perempuan menyampaikan pandangannya masing-masing terhadap persoalan yang dihadapi kaum perempuan di Indonesia, bahkan muncul gerakan anti-permaduan. Kongres Perempuan Indonesia pertama itu juga menghasilkan sejumlah resolusi dan membentuk Perikatan Perkumpulan Perempoean Indonesia.

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close