Kisah Penolakan Reklamasi Teluk Benoa Dibuat Film

Category: Uncategorized 11 0

Bali – Seorang sineas muda asal New York Amerika Serikat,
Gary Bencheghib, menggaungkan penolakan reklamasi Teluk Benoa ke dunia lewat
film dokumenter 40 menit berjudul The Reclamation.

Foto: Tempo.co.

The Reclamation yang digarap Gary
selama dua tahun, diluncurkan dalam tiga bagian. Episode pertama, Bali vs.
Mass Development
, menceritakan tentang pembangunan yang kacau dan tak
terkendali di Bali selama beberapa tahun terakhir, serta dampaknya terhadap
warga Bali pun budaya tradisional mereka. Digambarkan pula pertentangan antara
warga lokal dan pengembang proyek.

Pembuatan episode
pertama The Reclamation melibatkan pendeta Hindu tertinggi di Bali,
Ida Pedanda Gede Made Gunung; aktivis lingkungan yang juga drummer grup band Superman
Is Dead (SID), Jerinx atau JRX, serta Ketua Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi
Teluk Benoa (ForBALI) Wayan Suardana alias Gendo.
Selama SID memang getol
menyuarakan tolak reklamasi teluk Benoa.

“Kami seniman musik,
Pak Presiden. Bukan ahli hukum. Tapi tidaklah sulit bagi kami untuk mengerti
isi Perpres tersebut, bahwa Perpres Nomor 51 Tahun 2014 diterbitkan untuk
kepentingan reklamasi,” demikian tulis SID dikutip dari petisi online di
Cahnge.org berjudul “Pak @Jokowi, Segera Batalkan Perpres 51 Tahun 2014”

Gary sang pembuat film
dokumenter The Reclamation adalah anak muda berumur 21 tahun yang
lahir di Perancis. Dia pertama kali menginjak Bali pada umur 9 tahun, saat itu
ia langsung jatuh cinta dengan Pulau Dewata sehingga menurutnya penting untuk
menjaga kelestarian lingkungan Bali.
Saat usianya 14 tahun, Gary sudah mulai mendirikan Make
a Change Bali
–organisasi yang memiliki misi melindungi dan melestarikan
lingkungan Bali dengan mengedukasi warga dan membaur bersama komunitas lokal. Kini
Gary terlibat aktif dalam aksi Tolak Reklamasi yang ia sebut sebagai “Salah
satu gerakan lingkungan terbesar dalam sejarah Indonesia,”.
Untuk diketahui, penerbitan
Peraturan Presiden Nomor 51 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Peraturan
Presiden Nomor 45 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan Perkotaan
Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan, yang ditandatangani Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono menjadi biang keladi reklamasi teluk Benoa di Bali.
Proyek reklamasi yang
bakal digarap oleh  PT Tirta Wahana Bali
Internasional itu belum terwujud karena terhambat soal analisis dampak
lingkungan (AMDAL). Dikutip dari cnnindonesia.com,
direktur PT Tirta Wahana Bali, Heru Budi Wasesa mengatakan, penolakan reklamasi
adalah hal yang wajar dan pihaknya siap menyempurnakan dokumen AMDAL yang masih
terkendala tersebut.
Penolakan reklamasi
teluk Benoa memang menggema, pada 13 Maret 2016, ribuan orang turun ke jalan di
Legian, Kuta, menyuarakan ketidaksetujuan mereka atas proyek reklamasi. Seribu
warga Desa Adat Legian yang berpartisipasi dalam aksi itu mengenakan pakaian
adat bertuliskan “Legian Tolak Reklamasi Teluk Benoa.” Sebagian dari mereka
membawa poster bertuliskan “Save Bali from Drowning. Cabut Perpres
Nomor 51 Tahun 2014”. Tidak hanya itu, Bali TV juga menyiarkan iklan khusus
yang menyuarakan ‘Tolak Reklamasi Teluk Benoa’
Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close