Instruksikan Tembak Buruh, Bukan Kali Pertama Luhut Sudutkan Buruh

Category: Uncategorized 5 0

Jakarta – Belum lama ini, Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam), Luhut Panjaitan meminta agar Gubernur Kepri membuat Pergub yang mengatur lokasi demo di Batam dan memerintahkan Kapolri mengeluarkan instruksi kepada jajarannya untuk menembak buruh yang melanggar aturan saat turun ke jalan.

Luhut Panjaitan.

Perintah tersebut sangat membuat buruh geram. Ini bukan kali pertama seorang Menko Polhukam menyakiti buruh. Beberapa waktu lalu Luhut juga pernah melontarkan kalimat yang dinilai menyakiti buruh.

Pertama, ditengah tuntutan buruh kepada pemerintah agar membatalkan PP Nomor 78 Tahun 2015, Luhut justru menyarankan buruh agar berkaca. Ia berdalih, buruh tidak boleh sekedar menuntut, tatapi juga harus meningkatkan produktivitas. (Baca Juga: Bukan Buruh yang Harus Berkaca, tapi Pengusaha)

“Saya lebih cenderung mengatakan, buruh juga harus berkaca, apa itu, membuat produktivitas. Jadi produktivitas itu lebih penting, jangan dia hanya menuntut saja. Produktivitas buruh juga, menurut hemat saya, harus berkaca. Sama-sama kita memperbaikinya,” kata Luhut, di Kantor Wakil Presiden Jakarta, Senin(26/10/2015), dilansir dari Kompas.com.

Kini, Luhut kembali menyakiti buruh, Ia memerintahkan Kapolri Jenderal Polisi Badrodin Haiti agar mengizinkan jajarannya untuk menembak para pendemo anarkis.

“Tindak tegas yang melanggar, apalagi anarkis. Bahasa keren saya: Libas. Negeri ini tak boleh diacak-acak aksi premanisme, semua ada aturannya, jangan coba-coba,” tegas Luhut dikutip dari Rakyatku.com, Kamis (18/2/2016).

Menanggapinya, aktivis buruh yang pernah bekerja di PT Panarub Dwikarya, Kokom Komalawati mengecam pernyataan Luhut yang di sisi lain tidak mempersoalkan pelanggaran hak yang dilakukan oleh pengusaha.

“Dasar pengabdi kapitalis, main tembak saja. Berani atau tidak tembak pengusaha yang tidak memberikan hak buruh,” demikian tulis Kokom di akun Facebook. 

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close