Fakta Kondisi Kerja Buruh Adidas

Category: Uncategorized 74 0

adidas

Solidaritas.net, Tangerang – PT Panarub Dwikarya  (PT PDK) yang memproduksi alas kaki bermerk Adidas, Mizuno,Specs dan New Balance adalah anak cabang dari PT Panarub Group yang berpusat di PT Panarub Industri, produsen sepatu bermerk Adidas terbesar di Indonesia.

Adidas adalah perusahaan multinasional Jerman yang menyediakan perlengkapan sepak bola untuk club sepak bola terkenal seperti Bayern Munich, Real Madrid dan AC Milan bahkan mampu mensponsori pesepak bola terkenal asal club Barcelona, Lionell Messi. Namun, di balik proses produksi sepatu Adidas justru terdapat fakta-fakta kondisi kerja buruh yang memprihatinkan.

Berikut beberapa fakta buruk kondisi kerja buruh Adidas:

  1. Buruh Adidas sulit mendapatkan hak cuti

Sejak diterapkannya sistem one piece flow (sistem pengurangan tenaga kerja namun target bertambah) pada bulan Maret 2012, buruh yang tadinya mengerjakan satu proses pekerjaan diharuskan mengerjakan dua sampai tiga proses pekerjaan. Hal ini mengakibatkan buruh sulit meninggalkan pekerjaan, seperti ke kamar kecil, mengambil air minum, melakukan ibadah shalat, mengambil cuti tahunan. Perusahaan melarang buruh melakukannya dengan alasan tidak ada buruh yang bisa menggantikan.

  1. Buruh mengalami kekerasan verbal

Di PT Panarub Dwikarya sering terjadi kekerasan verbal, saat buruh tidak mencapai target yang sudah ditentukan, buruh diomeli atasan dengan kata-kata kasar, atasan juga kerap membanting sepatu atau barang lainnya saat marah. Sedangkan buruh yang tidak masuk kerja diberi hukuman fisik, yaitu diperintah untuk berdiri selama satu jam.

  1. Terjadi pelanggaran jam kerja

Pelanggaran jam kerja yang dimaksud yaitu melakukan briefing. Pengusaha melakukan briefing pada saat jam pulang, jam istirahat dan pagi sebelum mulai bekerja selama 15 – 20 menit , di tambah dengan jam lembur yang tidak tentu pada saat akan melakukan ekspor, disini buruh diwajibkan lembur sampai pukul 12 malam.

  1. Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3)

K3 di PT Panarub Dwikarya juga tidak semua terpenuhi, dari alat pelindung diri seperti celemek, buruh harus beli sendiri karena tidak di sediakan oleh perusahaan. Sedangkan untuk sarung tangan dan masker, dalam satu minggu sekali buruh baru mendapatkan ganti.

Sementara itu, mantan buruh PT Panarub Dwikarya, Kokom Komalawati pada fan page Suara Buruh Adidas menulis

“Setiap jam buruh harus membuat 180 pasang sepatu. Apabila tidak memenuhi target, maka buruh akan diomeli. Buruh juga harus bekerja 8 jam perhari, apabila lembur bisa 10 sampai 11 jam,” tulisnya.

 

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close