Tetap Saja Aku Bangkit

Tetap Saja Aku Bangkit

Kau boleh saja menuliskanku dalam sejarah

maya angelou
Maya Angelou. © Fetchcomms / Flickr.com, di bawah Creative Commons Attribution 2.0 Generic.

Dengan kebohongan-kebohongan yang getir dan diplintir,
Kau boleh saja menginjak-lesak aku ke kotoran
Tapi tetap saja, layaknya debu, aku akan bangkit.

Apakah kelancanganku membuat kau marah?
Mengapa kau dirundung muram?
Karena aku melangkah bak aku menemukan sumur minyak
Yang dipompakan ke ruang tamuku.

Layaknya bulan dan matahari,
Yang memberikan kepastian pasang-laut
Layaknya harapan bersemi-memuncak,
Tetap saja aku akan bangkit.

Apa mau kau menyaksikan aku hancur?
Menyimpuhkan kepala dan merundukan mata?
Pundak lunglai bagai tetes air mata,
Lemah karena tangis yang menyayat?

Apakah keangkuhanku menyinggung kau?
Jangan lah kau memahaminya sangat mengerikan
Karena aku terbahak-bahak bak aku menemukan tambang emas
Yang digali di halaman belakang rumahku.

Kau boleh saja menembakku dengan kata-kata kau,
Kau boleh saja mencincangku dengan mata kau,
Kau boleh saja membunuhku dengan kedengkian kau
Tapi, tetap saja, layaknya udara, aku akan bangkit.

Apakah gairahku membuat kau gusar?
Apakah buat kau mengejutkan
saat aku menari bak aku mendapatkan intan
Di peraduan-lenggok pahaku?

Di luar gubuk sejarah yang hina
Aku bangkit
Bangkit dari masa lalu akar kepedihan
Aku Bangkit
Aku lautan hitam, melonjak dan luas
menggenang dan membuncah yang kuangkut dalam pasang.

Meninggalkan malam-malam teror dan ketakutan
Aku bangkit
menyongsong hari baru yang jernih menakjubkan
Aku bangkit
Aku lah impian dan harapan para budak.
Aku bangkit
Aku bangkit
Aku bangkit.

Kenangan

Tangan kau gampangan
berat, menggoda lebah
di koloni lebah rambutku, senyum kau di
lekukan daguku. Pada
saat, kau menindih
di atasku, berbinar-binar, menyemburkan
kesiapan, misteri perkosaan
akalku.

Ketika kau telah undur
diri kau dan keajaiban kau, saat
hanya harum
cinta kau yang menetap di antara
buah dadaku, lalu, hanya
kemudian, aku sanggup dengan rakus kulahap
kehadiran kau.

Saat Kau Datang

Saat kau datang padaku, tanpa disuruh
memanggilku
ke kamar-kamar masa-lalu,
tempat kenangan-kenangan diletakkan.

Menyuguhiku, layaknya pada seorang anak, ruang loteng,
Mengumpulkan hari-hari yang terlalu sedikit.
Yang dihiasi dengan mencuri ciuman.
pernak-pernik cinta pinjaman.
Batang kata-kata rahasia.

Aku menangis.

Congkak

Ulurkan lah tangan kau
Beri lah ruang bagiku
untuk membimbing dan menaati
kau
melampaui kemurkaan puisi ini.

Biarkan lah yang lain memiliki
kerahasiaan pribadi
menyentuh kata-kata
dan cinta tentang kehilangan
cinta.

Bagiku
Ulurkan lah tangan kau.

Waktu Berlalu

Kulit kau bagai fajar
Kulitku bagai kasturi

Seseorang melukiskan awal
tentang kepastian akhir.

Yang lain, akhir dari
awal yang pasti.

Disentuh Malaikat

Kita, tak terbiasa dengan keberanian
tersingkir dari gairah kehendak
hidup ditelikung dalam cangkang kesepian
hingga kasih-sayang meninggalkan kuil suci sakralnya
dan datang menghampiri pandangan kita
untuk membebaskan kita agar kita hidup.

Kasih-sayang telah tiba
dan dalam keretanya datang lah kesenangan-memuncak
kenangan-kenangan lama kesenangan
sejarah kuno kepedihan.
namun begitu kita sudah bulat,
Kasih-sayang menggebrak-pergi rantai ketakutan
dari jiwa kita

Kita telah disapih dari rasa takut
Dalam siraman cahaya kasih-sayang
Kita tak gentar menjadi pemberani
Dan tiba-tiba kita paham
bahwa kasih-sayang memakan biaya kita semua
dan akan selalu begitu
Namun begitu hanya kasih-sayang lah
yang akan membebaskan kita.

(Maya Angelou, 1928 – 2014, perempuan kulit hitam pejuang kemanusian.)

Diterjemahkan oleh Danial Indarkusuma

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan