Susahnya Cari Kerja Bagi Eks Anggota Serikat

Oleh: Yusa

Seorang lelaki sedang berjalan gontai menyusuri jalanan kawasan itu. Tiba-tiba, dia dikejutkan oleh deru motor yang berisik dengan klaksonnya yang terus dibunyikan. Iring-iringan konvoy massa bermotor membawa atribut dan bendera serikat pekerja yang dianggap paling militan di kawasan tersebut.

stop union busting
Stop Union Busting (foto ilustrasi). © aps-nz.org.

Lelaki itu tersenyum kecut sambil bergumam, “Aku dulu juga seperti kalian bahkan lebih. Siang malam di manapun aksi gerebeg pabrik aku tidak pernah absen di dalamnya. Sekarang begitu bangga dan merasa hebat kalian, tapi nanti kalau sudah bernasib sepeti aku baru kalian merasakannya.”

Lalu lelaki itu pun terus berjalan dari pintu ke pintu perusahaan. Namun, malang tak dapat dicegah dan untung tak dapat diraih. Tidak satupun perusahaan menawarkan lowongan. Kalaupun ada itu pun hanya untuk para lulusan baru. Bukan seperti dia yang udah beranjak naik ke 28 tahun. Ia harus dengan rapat menyembunyikan statusnya yang pernah menjadi anggota serikat. Paklaring tak bisa digunakan, karena para HRD telah bekerjasama untuk menandai paklaring buruh yang pernah berserikat.

“Mereka yang pernah berserikat, jangan mimpi kerja di PT (perusahaan-ed)!” itulah komitmen bersama di antara para HRD.

Di perempatan lampu merah, kuning, hijau itu dia berhenti dan menepi di bawah keteduhan pohon Cherry. Di bawah pohon itu semilir angin sepoi-sepoi sedikit mengobati bara luka di dada. Pikirannya pun melayang di saat-saat dia masih berjaya bekerja di sebuah perusahaan yang bonafide. Dia pun teringat saat-saat dia merasa HEBAT berdemo kesana-kemari. Menjunjung tinggi panji-panji solidarity forever. Tapi kini, setelah dia jadi penggangguran, solidarity forever yang dia puja, ‘bersaudara walaupun tanpa ikatan darah’ seolah menjadi garam yang menyirami luka hatinya. Ia merasa disingkirkan, tak ada solidaritas untuknya saat dipecat, hanya slogan solidaritas belaka.

“Yeaah, mungkin sudah suratan nasibku harus menerima kenyataan pahit ini”, begitu gumamnya. Dan angan dia semakin terbang ke langit dibawa oleh sang angin.

“Aku yang dulu bukanlah yang sekarang. Dulu aku berjuang, sekarang aku ditendang. Demi sebuah idealisme aku ke sana-kemari untuk membantu membebaskan kaum buruh. Tapi kini hidup dan diriku benar-benar dibebaskan dari sebutan ‘buruh’. Pengangguran. Dulu setiap bulan aku sisihkan sebagian rejekiku untuk bayar COS (Check off System-ed) bahkan ongkos perjalanan ke tempat-tempat aksi. Tapi kini, bahkan untuk membeli sebotol air mineral saja aku tak mampu. Aku yang dulu begitu gagah meneriakkan perlawanan terhadap kapitalis seperti elit SP (serikat pekerja-ed) itu yang ajarkan, kini hanya merana kesana kemari sulit mencari kerja. Padahal dulu janji manis itu sungguhlah sangat manis, naik upah 50 persen, 30 persen. Kini jangankan upah UMK, mencari pekerjaan pun terasa sulit.”

Ia merasa perjuangan adalah benar, serikat adalah benar, tapi kenapa selalu kalah. Kenapa di saat nasibnya di ujung tanduk, tak ada instruksi solidaritas untuk menyelamatkan hidupnya. Rasa-rasanya ada yang tak beres di antara semua ini.

Hingga tak terasa butiran-butiran air hangat meleleh di antar kedua matanya. Lelaki gagah perkasa yang kemarin selalu bangga dengan seragam serikat pekerjanya pun tak kuasa tanpa sebuah pekerjaan yang mampu menafkahi dia dan keluarganya.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan