Strategi-Taktik

(Bagian 1)

Untuk Kawan-kawan Buruh

Kawan-kawan yang baik,

1. Problem satu pabrik tak bisa dilihat sebagai persoalan pabrik (atau PUK) belaka, ia mencerminkan persoalan ideologi, politik, dan organisasi—yang, kesalahannya bisa saja berwujud dalam KETIDAKMAMPUAN SERIKAT BURUH DALAM MOBILISASI/ PENGERAHAN MASSA untuk belajar, menuntut dan melakukan penyadaran atau kampanye.

2. Ya, akar dari ketidakmampuan mobilisasi tersebut adalah bahwa, sampai saat ini, sebagian besar serikat buruh masih bergerak dalam lingkup serikat buruh yang kadar kualitasnya rendah dalam arti tidak mampu mengimbangi kekuatan (terorganisir) kapitalis (yang dibantu negara yang tidak pro-buruh juga preman).

3. Ideologi atau gagasan sosial-demokrat serikat buruh–yakni menuntut perbaikan setahap demi setahap perbaikan dalam upah, tunjangan, kondisi kerja, keorganisasian, status kerja dan lain sebagainya—tidak diimbangi oleh kekuatan (politik) mobilisasi massanya, seolah tidak menyadari kekuatan kapitalis dan negara (yang tidak pro-buruh dan begitu bejatnya) yang sedemikian jauh lebih kuat ketimbang kekuatan buruh. Karena kelemahannya tersebut, banyak tuntutan yang diajukan pun masih jauh dari standard obyektif yang seharusnya dapat merubah nasib buruh ke derajat yang lebih manusiawi; juga banyak kemenangan tuntutannya pun merupakan kemenangan yang, memang, sudah dapat ditolerir (diizinkan) oleh kapitalis-negara.

4. Selain itu, banyak serikat buruh tidak menyadari status kapitalis yang sedang dalam krisis, yang menyebabkan kapitalis, dengan banyak cara–salah satunya menggunakan kekuatan negara–berusaha semakin mati-matian melakukan penghematan-penghematan dan menarik dana masyarakat untuk mengatasi krisisnya. Dan, karenanya, tekanan-tekanan yang semakin kuat terhadap nasib buruh sudah tak bisa lagi diatasi oleh serikat buruh yang gagasan-gagasan sosial-demokratnya masih berkadar rendah—bahkan masih jauh dibandingkan dengan serikat-serikat buruh di Eropa atau di Amerika Latin; dan kekuatan politik (massa) nya pun belum mampu mempengaruhi kebijakan kapitalis-negara; serta watak organisasinya sebagian besar masih sektarian per pabrik (belum menjadi kekuatan seluruh organisasi)—lebih lemah lagi adalah kekuatan persatuan (front) nya, baik persatuan antar-buruh atau dengan organisasi-organisasi di luar sektor buruh.

5. Itulah sebabnya problem utama kita adalah bagaimana buruh membangun kekuatan penekan (politik), baik dengan kekuatannya sendiri maupun bersama kekuatan perjuangan lainnya (persatuan). Untuk itu, maka fokus pekerjaan kita adalah memperbaiki mobilisasi/pengerahan massa untuk belajar, menuntut, dan melakukan penyadaran atau kampanye.

(bersambung)

(Bagian 2)

6. Belajar dan mobilisasi (pengerahan) massa (atau strategi bawah). Tujuan utama belajar adalah, selain untuk memperdalam wawasan perburuhan dan politiknya, juga agar kesadarannya berubah (lebih baik) sehingga mudah bergerak/digerakkan untuk tujuan-tujuan yang lebih besar. Pertama-tama, harus diperjuangkan (melalui berbagai cara yang demokratik) agar kesadaran buruh harus berpikiran terbuka—mau menerima pelajaran seluas dan setinggi mungkin dari siapa pun datangnya—dan, selain itu, juga kesadaran akan etos (semangat) belajar. Biasanya, kesulitan buruh untuk belajar adalah kurangnya waktu untuk belajar karena sudah digerogoti lembur dan hambatan shift kerja (atau ditindas oleh disiplin pabrik, yang terpaksa dipatuhi oleh buruh karena upahnya kecil sehingga, misalnya, memerlukan lembur yang menguras waktunya sehingga sulit untuk belajar dan berjuang). Mereka terpaksa lembur karena upahnya terlalu kecil untuk hidup layak. Karena itu, upaya kampanye untuk meningkatkan kesadaran dan etos belajar harus dibarengi oleh tuntutan kenaikan upah minimum (untuk saat ini upah minimum yang manusiawi berkisar sekitar 4-5 jutaan rupiah tanpa lembur)—dan dalam perhitungan industri di Indonesia, hal tersebut bisa diwujudkan, mengingat keuntungan bersih industri rata-rata sekitar 30-40-50% dari hasil penjualan. Dalam hal kurikulum, yang perlu diajarkan bukan saja sekadar mengenai perburuhan namun juga pelajaran ekonomi-politik—agar buruh mengerti faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi nasibnya dan nasib rakyat secara keseluruhan, serta bagaimana upaya untuk mengubah dan membangunnya. Pembelajaran tersebut juga harus bisa menggapai hingga angota-anggota biasa (melalui PUK dan otoritas struktur-struktur organisasi di atasnya), demikian pula anggota-anggota yang memiliki jabatan dalam struktur harus berbesar hati belajar bersama mereka. Metode belajar juga harus bisa mensortir (dari para pelajar buruhnya) buruh-buruh yang akan menjadi guru-guru yang akan disebar mengajar di seluruh PUK maupun di organisasi-organisasi lain. Dan harus ada cara untuk mensiasati jadwal pendidikan mengingat perubahan-perubahan shift kerja dan lembur. Selama masih ada hambatan shift dan lembur, serta hambatan upah yang tak mencukupi, yang membuat mobilisasi mengalami kesulitan, maka harus diupayakan (melalui penyadaran dan otoritas organisasi) untuk meminta/menginstruksikan kawan-kawan buruh 1 hari dalam 1 minggu—mungkin dalam tahap awal 1 hari dalam 1 bulan—untuk melepas lembur deni bisa belajar (yang tentu saja tidak akan membuat perusahaan bangkrut).

7. Mobilisasi menuntut (Juga Strategi bawah). Kekutan mobilisasi menuntut terletak pada jumlah maksimal massa yang dapat dikerahkan, juga terletak pada isi tuntutannya—apalagi bila tuntutannya wajar bagi buruh dan rakyat, maka tuntutannya potensial (punya kemungkinan) didukung buruh dan rakyat—dan juga terletak pada cara menuntutnya. Karena itu, agar jumlah massanya maksimal, maka diperlukan cara atau mekanisme organisasional atau non-organisasional untuk bisa membangkitkan keterlibatan (partisipasi) massa—untuk membicarakan segala sesuatunya. Juga, harus ada pertemuan-pertemuan regular (dengan mensiasati jadwal sfift kerja dan lembur) di dalam pabrik, antar-pabrik atau sekawasan (gabungan antar-sektor industri), antar-kawasan, hingga teritori (wilayah) yang bisa dicapai dengan mudah (misalnya, pertemuan antar-kota yang berdekatan). Dan, selama masih ada hambatan shift serta lembur, serta hambatan upah yang tak mencukupi, yang membuat mobilisasi mengalami kesulitan, maka harus diupayakan (melalui penyadaran dan otoritas organisasi) untuk meminta/menginstruksikan kawan-kawan buruh 1 hari dalam 1 bulan—mungkin dalam tahap awal 1 hari dalam 2-3 bulan—untuk berhenti bekerja tapi aksi-menuntut (yang tentu saja tidak akan membuat perusahaan bangkrut). Selain itu, harus dipegang teguh bahwa saat kapitalis menyerang kaum buruh, maka kawan-kawan buruh juga harus mencari celah untuk bisa menyerang (terutama) kapitalis dan negara karena, bila (terutama) kapitalis dan negara tidak merasa dirugikan, maka mereka akan lebih leluasa menekan buruh. Jadi, tuntutan dengan cara pemogokan, menuntut kapitalis secara legal/hukum, menduduki pabrik/perusahaan, menuntut otoritas negara—dari mulai Disnaker, menaker, parlemen, mahkamah Konsitusi, Mahkamah Agung, Komisi Yudisial, Komnasham dan lain-lain—harus menjadi pertimbangan untuk digunakan; selain itu, cara-cara menuntut lainnya—seperti menginap di rumah (selain di kantor) para pejabat negara, aksi mogok makan, kampanye, teater-aksi, telanjang dada dan lain sebagainya)—yang dapat merugikan dan membuat malu kapitalis serta negara juga harus dipertimbangkan untuk digunakan. Pengertian tahap-tahap perjuangan yang akan memberikan landasan bagi kemajuan perjuangan buruh selanjutnya haruslah berfokus pada: kenaikan upah minimum dan perbaikan UU perburuhan agar manusiawi, selain masalah-masalah lainnya seperti outsourching dan buruh kontrak, dan lain-lainnya.

(bersambung)

(Bagian 3)

8. Organisasi dan kemudahan mobilisasi. Secara organisasional, kemudahan mobilisasi bukan saja tergantung dari otoritas organisasi tapi struktur organisasinya pun haruslah secara mekanis (serta-merta) memudahkan pengorganisasian mobilisasi. Oleh karena itu, dalam organisasi, diperlukan struktur antar-pabrik (yang, sedapat mungkin, dapat melibatkan Koordinator line atau Korlap), struktur sekawasan, struktur antar-kawasan dan lainnya, yang memiliki jadwal teratur pertemuan-pertemuannya yang tak terlalu lama, dan ada petugas yang mengontrol berjalan atau tidaknya struktur-struktur tersebut. Selain itu juga, harus ada konsolidasi reguler yang melibatkan buruh sepabrik, antar-pabrik, antar-kawasan, dalam bentuk rapat-rapat akbar atau pertemuan umum. Tujuannya adalah agar ada kekuatan solidaritas bila satu atau beberapa pabrik mengalami masalah; juga agar tuntutan yang lebih besar—seperti kenaikan umah minimum hingga manusiawi, perubahan (revisi) UU, jaminan sosial dan sebagainya—memiliki kekuatan penekan (daya tekan) politis. Dan yang lebih penting lagi, adalah: bahwa kawan-kawan buruh yang sudah maju—yang sudah mengikuti pendidikan; menerima latihan fisik/militansi; terlibat dalam aksi; suka menulis dan lain sebagainya—didorong untuk memiliki kepercayaan diri untuk menduduki jabatan-jabatan dalam organisasi.

9. Mobilisasi penyadaran atau kampanye (atau strategi atas). Dalam mobilisasi penyadaran atau kampanye, alat-alat yang terpenting adalah: pengerahan massa (kombinasi strategi bawah dengan strategi atas), berbagai media kampanye [koran, pamflet, selebaran, TV, radio, media sosial (seperti Facebook, Twiter, BBM, Whatsup dan lainlain), mailist, Website, kaos, poster, dan lain sebagainya], mimbar/panggung/ajang (seperti rapat umum, aksi, kampanye, konsolidasi, talkshow, seminar, momen-momen tertentu seperti saat pemilu, hari-hari besar, dan lain sebagainya). Tujuannya adalah bukan saja agar tujuan dan gagasan-gagasan organisasi kita diketahui secara luas oleh massa/rakyat, dan juga bukan saja agar pimpinan-pimpinan organisasi dikenal dan disayang buruh/rakyat, tapi juga agar organisasi dan gagasan-gagasannya mendapat dukungan massa/rakyat yang lebih luas. Itulah sebabnya kaum buruh juga harus memikirkan untuk ikut berpolitik, bukan saja untuk mempermudah perjuangan (bila memegang kekuasaan), tapi juga dapat menggunakan mimbar (yang lebih luas dan banyak) untuk mendapat dukungan massa/rakyat yang lebih besar. Apalagi bila setahap demi setahap kawan-kawan buruh dapat mendirikan partainya sendiri, sehingga lebih leluasa dan terpercaya memperjuangkan gagasan-gagasannya, ketimbang tergantung pada partai lain—yang, pada saat ini, sulit untuk dipercaya (amanah).

10. Hal lainnya yang perlu diperhitungkan adalah pendanaan mobilisasi. Selain uang cos (check off system/iuran buruh), usaha ekonomi, sumbangan tak mengikat dan lain-lainnya, juga kita harus memaksimalkan dana perjuangan yang di simpan di PUK (di luar Cos dan sumbangan-sumbangan lainnya). Atau, kita harus bisa membuat analisa statistik perkiraan dana juang rata-rata—dengan memperhitungkan lamanya mogok, jumlah pemogok, dan bentuk aksi-aksi lainnya. Sehingga, bila dana juang telah mencapai target (berlebih), maka sisanya bisa diberikan atau disentralisir untuk solidaritas perjuangan pabrik-pabrik lain, dan (sehingga) kelebihan dana juang (bulan) berikutnya juga dapat disentralisir.

(bersambung)

(Bagian 4)
11. Kawan-kawan, terutama kawan-kawan pabrik yang sedang mengalami masalah bisa saja mengatakan bahwa semua penjelasan tersebut di atas baru bisa diwujudkan dalam jangaka panjang. Pernyataan tersebut memang benar, namun bukan berarti tidak harus dikerjakan dari mulai sekarang. Hal tersebut harus tetap dikerjakan dari sekarang karena ia merupakan kunci-strategis untuk menghasilkan pergerakan buruh yang ampuh. Tapi tentu saja kita tidak boleh mengabaikan realitas (kenyataan), dan harus ada cara bagaimana mengolah realitas, yang ada sekarang. Kita malah harus berangkat, menapak ke depan, di atas landasan kenyataan sekarang; kita harus bisa memanfaatkan kenyataan sekarang demi menapak pada perjuangan selanjutnya. Kita harus memaksimalkan capaian-capaian posistif kita (rachmat) untuk memajukan gerakan buruh kita dan meminimalkan aspek-aspek negatif yang menghambat gerakan buruh. Misalnya, ambil saja contohnya kasus satu pabrik yang sedang mengalami masalah sebagai berikut: satu perusahaan Jepang mendapatkan izin usaha dengan golongan kategori 2 padahal, dalam realitanya, perusahaan tersebut seharusnya golongannya adalah kateori 1. Karena manipulasi kategori tersebut, berakibat pada upah buruh yang lebih rendah. Buruh melakukan protes, dan:

A. Misalnya, kasus tersebut merupakan kasus yang telah berjalan lama dan memiliki status: masih kalah (menunggu kasasi ke Mahkamah Agung). Kapitalis menyerang buruh dengan alat negara (yang tidak membela buruh)—yakni dengan menggunakan PHI, Disnaker, Depnakertrans, Mahkamah Agung (yang tidak mengawasi badan di bawahnya secara peduli), Komisi Yudisial, polisi, dan juga menggunakan preman.

B. Serangan balik buruh terhadap kapitalis lembaga-lembaga negara tersebut, dengan cara mogok, menginap dan lain sebagainya, mengalami kegagalan (karena proses produksi tidak berhenti dengan adanya sebagian kawan yang tidak ikut mogok, tetap bekerja). Bahkan tuntutan balik gugatan pidana (penggelapan upah) terhadap kapitalis, tidak diproses (atau diurus hanya basa-basi) oleh polisi.

C. Situasi moral kawan-kawan di pabrik, bisa saja merosot karena (bisa saja) sekarang apa yang ada dalam kesadarannya adalah menunggu, bukan kesadaran sedang mencari siasat baru. Itu, misalnya, dikarenakan tidak ada konsolidasi-konsolidasi yang melibatkan kawan-kawan antar-pabrik, antar-kawasan dan lain sebagainya.

D. Situasi di atas tersebut sangat membahayakan bagi organisasi, merupakan pertaruhan bagi organisasi, karena akan tumbuh ketidakpercayaan pada organisasi dan ketidakpercayaan pada pimpinan—apalagi bila pimpinan tidak menyadarinya atau tidak berusaha melibatkan banyak pihak untuk mendapatkan siasat baru.

E. Hal yang membahayakan lagi: dana solidaritas untuk menunjang kehidupan sehari-hari kawan-kawan yang sudah tak berpenghasilan, tidak berjalan.

F. Karena itu, rekomendasi untuk mengatasi masalah-masalah pabrik tersebut, selain rekomendasi-rekomendasi jangka panjang di atas, adalah rekomendasi-rekomendasi jangka pendek yakni, antara lain:

(bersambung)

(Bagian 5)
❚ Memberi tekanan lebih besar kepada kapitalis—dengan menekan polisi agar memproses gugatan pidana (penggelapan upah, bahkan pajak) agar diproses oleh polisi hingga dilimpahkan ke pengadilan dengan tekanan massa dan kampanye; selain itu juga, menghentikan proses produksi (paling tidak selama 1-2 hari, dan dilakukan kembali bila tak ada perhatian dari kapitalis dan negara); selain itu, kawan-kawan harus menyerang negara (yang memiliki otoritas lebih tinggi dari menteri dan parlemen, karena mereka sudah tidak bisa diharapkan, yakni dengan mendatangi rumah pribadi presiden).

❚ Namun aksi pendudukan pabrik, gugatan pidana dan kampanye harus diletakkan belakangan sesudah mendatangi rumah presiden, agar aksi pendudukan, gugatan pidana dan kampanye bisa berjalan aman (tanpa resiko penangkapan dan gugatan balik pidana) karena, dengan mendatangi rumah presiden, publik secara luas menjadi mengerti kasusnya, sehingga polisi dan kapitalis tidak akan sewenang-wenang memperlakukan aksi (terutama) pendudukan pabrik tersebut. Kita tahu, karena itu, banyak aksi pendudukan pabrik (bahkan pembakaran pabrik) tidak mengakibatkan penangkapan. Selain itu, aksi ke presiden tidak dilakukan ke istana, karena efek (mendapat perhatian presiden) lebih kecil—sudah terlalu banyak aksi di istana tidak mendapat perhatian presiden dan media massa—itu karena, bila massanya tidak terlalu besar sekali, sudah menjadi rutinitas yang menghilangkan kepekaan nurani presiden. Tujuan siasat tersebut adalah agar seluas-luasnya orang tahu bahwa buruh sedang menuntut ke rumah presiden, tidak lagi ke istana, dan menterinya, Menaker, sudah tidak becus mengurus pekerjaannya. Dengan demikian, media massa harus diorganisir sebaik mungkin: berangkat bersama buruh dari pabrik, undangan meliput harus pasti sampai ke kantor-kantor media massa—oleh karena itu, undangan meliput bukan saja dikirim lewat fax, SMS, telpon, dan e-mail, tapi juga diantar langsung secara berbarengan. Harus ada yang khusus mengurus media massa, bukan saja undangan peliputannya, tapi juga mendatangkan mereka ke pabrik untuk pergi bersama, tujuannya agar ada kepastian diliput—sehingga bila diblokade di tengah jalan, media massa sudah tahu bahwa kita berniat ke rumah presiden, dan kita bisa mundur (jangan memaksakan diri). Selain itu, bila ada tekanan dari negara terhadap aksi ini, kita bisa memberikan alasan bahwa aksi ini adalah win-win solution (sama-sama menguntungkan) bagi presiden dan buruh—bila presiden menerima buruh dengan baik-baik, maka citranya akan membaik; dan buruh bisa mendapat jalan keluar atas masalahnya karena tekanan presiden pada kapitalis.

❚ Dana juang, selain dikumpulkan dari solidaritas, juga dikumpulkan dari kelebihan dana juang (sebagaimana telah disebutkan di atas). Semua PUK di kawasan-kawasan yang terdekat dengan pabrik yang bermasalah tersebut harus diperiksa dana juangnya agar kelebihannya dapat diambil dan diberikan untuk perjuangan pabrik yang bermasalah tersebut.

❚ Yang terpenting adalah: mobilisasi massa. seluruh PUK yang berdekatan dengan pabrik yang bermasalah tersebut, harus diinstuksikan (baik formal dengan surat instruksi, maupun dengan dikumpulkan terlebih dahulu oleh pejabat struktur yang berwenang) untuk mengerahkan massa sebanyak-banyaknya guna bersolidaritas pada aksi tersebut, kalau perlu berhenti kerja selama 1 hari. Selain itu, dibentuk pasukan penyadaran untuk datang ke setiap PUK (kalau perlu dengan membawa konvoi massa) untuk meminta solidaritasnya.

(bersambung)

(Bagian 6, TAMAT)

12. Capaian-capaian dalam strategi bawah (pengerahan massa). Kita telah sanggup menutup kawasan sebanyak 3 kali dengan massa mendekati seratusan ribu massa (aksi tutup kawasan terakhir), disamping aksi-aksi berskala 500-10.000 massa yang frekwensi puluhan kali.

13. Capaian dalam strategi atas. Organisasi kita ataupun organisasi persatuan lebih dikenal luas oleh buruh dan masyarakat, sehingga keanggotaan baru bertambah. Di samping itu gerakan kita sudah bisa menggugah kepedulian presiden. Dan, yang terpenting, program-program kita dan pimpinan-pimpinan kita menjadi lebih luas dikenal dan didukung oleh buruh dan masyarakat.

14. Capaian dalam kesadaran. Dengan diangkatnya masalah-masalah (issues) yang juga menyangkut kepentingan masyarakat, bukan saja kepentingan buruh, dan masalah-masalah tersebut diarahkan tuntutannya pada negara—pemerintah dan parlemen—maka sekarang kesadaran politik bruuh semakin meningkat.

15. Capaian-capaian positif tersebut (rachmat) harus diakumulasi (dilipatgandakan) untuk mendapatkan rachmat-rachmat berikutnya dan bisa meminimalisir aspek-aspek negatif yang menghambat gerakan buruh.

15. Peringatan: ancaman terhadap demokrasi. Seperti kawan-kawan tahu, sejak dibukanya reformasi tahun 1998, walaupun dalam bidang ekonomi (kesejahteraan belum ada kemajuan yang berarti, namun kita bisa menikmati porsi demokrasi dalam kadar tertentu—misalnya sedikit lebih bebas berbicara; dapat melakukan aksi atau demonstrasi dan lain sebaginya sehingga, karenanya, kita bisa mendapatkan rachmat capaian-capaian tersebut di atas. Namun, sekarang, ada gejala bahwa demokrasi mendapatkan ancaman, sedang akan dipukul balik, sebagai contohnya: pada tanggal 11 September 2011 (kalau tak salah) sudah ada upaya pembunuhan terhadap ketua PUK-SPSI Freeport. Namun kejadian tersebut tidak ditanggapi dengan selayaknya (massif) sehingga, tak berapa lama kemudian Petrus dibunuh. Pembunuhan Petrus pun tidak ditanggapi dengan selayaknya—hanya menekankan lobby pada DPR dan KOMNASHAM, bukan dengan mobilisasi massif persatuan gerakan buruh. Akibatnya, tak berapa lama kemudian 4 orang lagi dibunuh. Setelah itu datang lah penindasan terhadap kawan-kawan di Batam, petani di Mesuji dan Bima dan, yang terakhir, ancaman PANGDAM sembari menempatkan tentara, polisi dan marinir di pabrik-pabrik sehingga rencana aksi kawan-kawan Tangerang ntuk menutup tol tak bisa dilaksanakan. Demikian juga, sekarang Koalisi Merah Putih sedang mencoba memukul-balik demokrasi—terutama saat meloloskan UU Pilkada. Itulah sebabnya kawan-kawan buruh harus peka pada ancaman terhadap demokrasi karena tanpa demokrasi maka gerakan bruuh akan mengalami kesulitan—apalagi bila gerakan buruhnya (dan pimpinannya) tidak militan.
Untuk sementara itu dahulu.

Terima kasih.

Salam juang.

TAMAT

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan