Solidaritas Papua Gelar Doa Bersama untuk Kebebasan Rakyat Papua

Solidaritas.net, Bandung – Kebebasan bagi rakyat Papua dalam berekspresi semakin terbelenggu belakangan ini, sejak aparat militer terus menangkap para aktivis demokrasi di negeri paling timur Indonesia tersebut. Untuk itulah, Solidaritas Papua menggelar doa bersama di Posko Papua Zona Darurat, Asrama Mahasiswa Papua, Jalan Cilaki, Bandung, Kamis (18/6/2015). Mereka berharap ekskalasi kekerasan militer yang terjadi di Papua bisa segera dihentikan.

solidaritas untuk papua
Solidaritas Untuk Papua saat diskusi persiapan aksi. Foto: Mettu/MajalahSelangkah.com.

Menurut laporan yang dihimpun para aktivis, sebanyak 479 aktivis di Papua telah ditangkap dan dipenjarakan selama 30 April 2012 hingga 1 Juni 2015. Sayangnya, selama ini malah banyak masyarakat Indonesia yang sama sekali tidak mengetahui kekejaman aparat militer Indonesia untuk membungkam aspirasi rakyat Papua. Oleh karena itu, mereka pun terus berupaya untuk memperjuangkan nilai-nilai kebebasan dan demokrasi bagi rakyat Papua.

“Pelanggaran yang dilakukan militer menyebabkan aktivis pembebasan Papua ditangkap, lalu dipenjara,” ujar Koordinator Posko Papua Zona Darurat, Nas Karoba, seperti dikutip oleh Redaksi Solidaritas.net dari portal berita online JabarNews.com, pada Jumat (19/6/2015).

Selain menggelar doa bersama, Solidaritas Papua yang terdiri dari mahasiswa asal Papua ini memang juga ikut memperjuangkan demokrasi dan kesejahteraan bagi masyarakat Papua, sebagai kepedulian mereka terhadap Tanah Papua dan Rakyat Papua. Sementara itu, Posko Papua Zona Darurat yang mereka dirikan difungsikan sebagai wadah bagi kelompok atau individu yang menyetujui bahwa demokrasi dan kemanusiaan menjadi prioritas perjuangan yang utama. Pasalnya, demokrasi merupakan syarat pembebasan bagi sebuah bangsa.

Selain itu, sejumlah aktivis dan komunitas yang menggerakkan massa rakyat Papua di Kota Bandung, Jawa Barat, juga telah membentuk Solidaritas Peduli Papua. Beberapa aktivis terlibat dalam komunitas tersebut, di antaranya Asri dari kantor Hukum AVD&Associates Kota Bandung, Anas dari Pusat Perjuangan Mahasiswa untuk Pembebasan Nasional (Pembebasan, Resa dan Ehenk dari Perpustakaan Jalanan (Perja), Luwo dari Fakultas Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Kota Bandung, dan beberapa aktivis lainnya.

Mereka pun melakukan aksi unjuk rasa di Kota Bandung, pada 18 dan 21 Juni 2015, untuk mendukung The United Liberation Movement for West Papua (ULMWP) yang digelar pada 18-23 Juni 2015 di Honiara, Solomon Island. Pertemuan ini sendiri berjuang sebagai wadah representasi rakyat Papua untuk bergabung ke forum Melanesian Spearhead Group (MSG). Dalam aksi tersebut, mereka juga menggelar sejumlah penampilan terkait dengan Papua.

“Antara lain kampanye Papua Zona Darurat, musik akustik, pembacaan puisi, orasi politik di atas panggung dan pemutaran film Papua. Semua ini kami akan lakukan dalam rangka mendukung ULMWP,” ujar Koordinator Solidaritas Peduli Papua Bandung, Markus Medlama memberikan keterangan tentang aksi unjuk rasa itu, seperti dilansir majalahselangkah.com.

Sedangkan, Asri mengatakan kebanyakan orang di Bandung sama sekali tidak tahu soal Papua, baik tentang sejarahnya, apalagi soal kejadian yang dialami orang Papua selama ini.

“Kami kaget setelah lihat potret kekerasan militer terhadap orang Papua, dan kami hanya nonton video kekerasan yang diunggah lewat Youtube,” kata Asri pula memberi komentar.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan