Setelah Menonton JAGAL dan SENYAP

Solidaritas.net | Boyolali – Di masa kecilku, bapak sering bercerita tentang dirinya yang menjadi penjaga mushala dengan bersenjatakan clurit ketika tiba waktu shalat, karena diisukan akan diserang oleh PKI.

Bahkan, di masa pembantaian tahun 1965, beliau juga ditugaskan membunuh banyak orang yang dituduh PKI, yang dikirimkan dengan truk-truk militer.

Sadis ? Ya, memang sadis.

Salahkah beliau yang saat itu menjadi pembunuh? Menurutku tidak, karena apa yang beliau lakukan saat itu, hanya melakukan apa yang dianggap benar, membela umat muslim dari serangan PKI, seperti yang diisukan saat itu.

Pemahaman yang ditanamkan kepada beliau (dan mungkin bapak kalian juga) bahwa PKI dan anggotanya adalah penjahat yang harus ditumpas. Membenturkan umat muslim dengan PKI yang dipahami sebagai kelompok anti agama, sesat dan pembunuh tak beradab.

Hingga saat ini, pembunuhan yang pernah dilakukannya menjadi penyesalan yang terus menghantui beliau, meski apa yang dilakukannya masih diyakini sebagai hal yang benar. Aku tidak bisa membayangkan seperti apa jika beliau mengetahui apa yang ia waktu itu sesungguhnya hal yang salah. Ia sekarang berumur 70 tahun, hidup dalam ketidaktahuannya.

Dalam hal ini, menurutku, orang seperti beliau dan korban pembantaian tahun 1965 adalah sama-sama menjadi korban, bahkan beberapa generasi berikutnya hingga hari ini.

Doktrin ini terus ditanamkan ke generasi berikutnya di masa Orde Baru, misalnya melalui film G-30-S versi Orde Baru yang setiap orang, kanak-kanak hingga dewasa, diwajibkan untuk menonton setiap tanggal 31 September. Mereka semua korban Orde Baru.

Akibatnya, tertanam dalam pikiran kanak-kanak saat itu, yang sekarang tentu sudah dewasa, juga generasi seusiaku bahwa PKI (paham komunis) adalah anti agama dan sadis.

Karena kondisi inilah, maka pemutaran film “SENYAP” di berbagai tempat mengalami intimidasi, bahkan dibubarkan paksa. Tapi sadarkah kita bahwa dibalik intimidasi dan pembubaran paksa tersebut ada “dalang” di belakangnya? Tentunya mereka yang mengerti kebenaran, tetapi tidak ingin rakyat tahu kebenaran yang hendak diungkap melalui film ini.

Jaman belum berubah, sejarah masih diputarbalikkan demi kepentingan penguasa. Saat kebenaran coba diungkap, ia dibungkam paksa oleh penguasa dan lagi-lagi rakyat kecil diadu domba.

(Mubarokah, buruh Boyolali asal Blora)

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan