SBSI 92 Siap Demo Tolak KAA 2015

Solidaritas.net – Peringatan Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang akan dihelat pada 19-24 April 2015 nanti di Jakarta Bandung ternyata mendapat penolakan dari kaum buruh. Bahkan, para buruh yang tergabung dalam Serikat Buruh Seluruh Indonesia (SBSI) 1992 pun telah menyiapkan rencana untuk menggelar aksi demo besar-besar saat acara itu berlangsung.

sunarti sbsi 92
Ketua SBSI 92, Sunarti (tengah) dalam Rakernas SBSI 92 tahun 2012. Foto: ucoklebar.blogspot.com.

“Unjuk rasa akan kami lakukan, terkait KAA hanyalah sebuah forum konsolidasi para rezim mayoritas yang akan dijalankan kapitalisme,” ujar Ketua Umum SBSI 1992, Sunarti, kepada wartawan di Kantor Apindo Jakarta, seperti dilansir oleh Okezone.com, Kamis (16/4/2015).

Menurutnya, peringatan KAA 2015 telah jauh melenceng dari latar belakang terbentuknya solidaritas negara-negara se-Asia-Afrika yang anti imperialisme dan kolonialisme tersebut. Saat ini, peringatan KAA hanya jadi forum konsolidasi para rezim mayoritas yang merupakan boneka Amerika Serikat di negara Asia-Afrika. Ditegaskannya lagi, forum itu pun kini telah menjadi ajang untuk menguatkan kerjasama penghisapan dan penindasan terhadap rakyat.

“Buktinya, agenda pokok KAA yakni memperluas outsourcing, membahas penanaman modal asing, dan pelepasan empat saham perusahaan milik negara atau BUMN. Di KAA juga akan dibuka bussines summit yang diikuti oleh 605 CEO asing,” tambahnya lagi dilansir RMOL.co.

Disebutkan Sunarti, 4 BUMN yang akan ‘dijual’ ke para CEO itu adalah BUMN yang strategis, yakni PT Adhi Karya, PT Waskita Karya, PT Antam, dan PT Jasa Marga. Makanya, dengan adanya pembahasan seperti itu tentu akan berdampak bagi masyarakat, terutama buruh, tapi bukan menambah kesejahteraan. Apalagi, dengan kesepakan bussines summit dengan investor asing tersebut, praktek outsourcing pun akan semakin merajalela di Indonesia.

Oleh karena itu, pihak SBSI 1992 memberikan peringatan bagi pemerintah tentang agenda tersebut. Terutama soal kesiapan bangsa Indonesia, termasuk mengenai kemampuan para pekerja untuk menghadapi persaingan dengan pekerja asing dalam program pasar bebas.

“Itu semua bermuara karena perjanjian dengan asing. Kalau Jokowi terus bahas penanaman modal undang investor, terus gimana dengan pengusaha kecil. Khususnya para buruh dan pedagang kecil. Ini ancaman bagi kita. Apakah kita sudah siap, apakah pemerintah sudah mempersiapkan skill bangsa kita? Apalagi kita akan memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) tahun depan. Kita belum siap. Banyak sistem yang harus dibenahi,” lanjut Sunarti.

Sementera itu, terkait aksi demo besar-besaran yang akan digelar oleh SBSI 1992, Sunarti menyebut saat ini mereka masih dalam proses perizinan kepada pihak kepolisian. Namun, kabarnya pihak kepolisian malah menghimbau kaum buruh agar aksi demo itu dilakukan sebelum acara berlangsung pada tanggal 19 April atau setelahnya pada tanggal 24 April.

“Besok (Jumat, 17 April 2015) pun akan ada pertemuan dengan Mabes Polri terkait izin unjuk rasanya. Kami tetap akan melakukan aksi saat KAA berlangsung, karena momentum tepat dalam menyampaikan aspirasi yang besar,” pungkas Sunarti soal aksi demo tersebut.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan