Protes KAA 2015, FPR Demo Setiap Hari

Category: Arsip 15 0

Solidaritas.net – Meski kepolisian mengeluarkan larangan untuk menggelar aksi demonstrasi selama pelaksanaan Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Jakarta dan Bandung dari 19 – 24 April 2015, namun sejumlah aktivis tetap bersikukuh melakukan demo untuk menyampaikan tuntutan mereka terkait ajang pertemuan internasional tersebut. Bahkan, mereka berdemo setiap hari selama pelaksanaan KAA 2015 secara bergiliran hingga penutupannya. Hal ini diungkapkan oleh aktivis Front Perjuangan Rakyat (FPR), Kokom Komalawati.

demo penutupan KAA 2015
Demo penutupan KAA 2015 di Jakarta, 24 April 2015. Foto: Kokom/FPR dok.

Pada penutupan KAA 2015, Jumat (24/4/2015), puluhan aktivis itu tetap menggelar demo di Jakarta dan Bandung untuk menyuarakan aspirasi. Mereka berasal dari sejumlah organisasi, yakni aktivis buruh Gabungan Serikat Buruh Independen (GSBI), aktivis petani Aliansi Gerakan Reforma Agraria (AGRA), aktivis buruh migrant Asosiasi Tenaga Kerja Indonesia (ATKI), aktivis perempuan Seruni, dan aktivis mahasiswa Front Mahasiswa Nasional (FMN).

Aksi demo tersebut digelar depan Istana Merdeka, Jakarta Pusat sejak pukul 10.30 WIB. Sebelumnya, mereka juga sempat melakukan long march dari Bundara Indosat. Dalam aksinya, para aktivis menyampaikan sejumlah tuntutan kepada pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sayangnya, aksi demo tersebut hanya berlangsung selama 30 menit saja, karena langsung dibubarkan oleh pihak kepolisian yang berjaga-jaga di sekitar lokasi demo itu.

“Kami menolak campur tangan imperialis AS dalam KAA 2015 ini, meminta kepada pemerintahan Jokowi-JK untuk tidak menjadi corong dari imperialis AS, dan mengembalikan semangat KAA 1955 yang anti imperialis dan anti neo kolonialisme,” ujar Sekretaris Umum GSBI Tangerang, Kokom Komalawati kepada Solidaritas.net, Jumat (24/4/2015).

Menurut Kokom, aksi demo ini sudah dimulai sejak Minggu, 19 April 2015 lalu. Selama pelaksanaan KAA 2015, mereka menggelar aksi demo setiap hari secara bergiliran dari masing-masing organisasi yang ada di bawah naungan FPR. Pada Jumat (24/4/2015), selain di Jakarta, aksi demo juga dilakukan di Bandung, tepatnya di depan Kantor Gubernur Jawa Barat, Gedung Sate, ketika para peserta KAA 2015 sedang berkumpul di Gedung Merdeka.

Terkait larangan demo dari pihak kepolisian, Kokom mengaku mereka sangat kecewa dengan kebijakan tersebut, karena pada dasarnya melakukan demo adalah hak setiap warga negara yang telah dijamin undang-undang berupa kebebasan menyampaikan pendapat.

“Iya, aksi kami memang tidak diijinkan oleh kepolisian walaupun surat pemberitahuan sudah dikirimkan jauh-jauh hari. Kami menyesalkan tindakan aparat yang tidak mengijinkan kami dalam melakukan aksi KAA ini,” lanjut Kokom yang sejak awal terlibat aktif dalam aksi ini.

Bahkan, dijelaskan aktivis buruh ini, sejumlah rekan-rekannya dari AGRA sempat ditangkap oleh aparat kepolisian saat akan menggelar aksi demo. Sebanyak 18 orang aktivis AGRA tersebut ditangkap pada Senin, 20 April 2015. Kemudian, para aktivis FMN juga gagal melakukan aksi demo pada Rabu, 22 April 2015, karena dihalang-halangi pihak kepolisian.

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close