Pendidikan Buruh

Category: Arsip 95 0

Solidaritas.net – Baru saja seorang buruh yang bekerja di Cikarang melaporkan mahalnya biaya pendidikan yang harus mereka bayarkan ke serikat perangkat cabang, yakni sebesar Rp. 1.000.000 untuk sebuah pendidikan tentang skala upah. Itupun setelah diturunkan dari dua juta menjadi satu juta sahaja. Yang lucunya, materi pendidikan ini berasal dari pendidikan untuk HRD yang biayanya hanya Rp. 300.000.

pendidikan buruh ekopol
Pendidikan Ekonomi Politik buruh tahun 2012 yang dilakukan setiap minggu secara gratis dan tanpa sistem perwakilan.

Cerita lain lagi, seorang buruh yang pabriknya berlokasi di Warung Bongkok, Cibitung, mengatakan perangkat cabangnya membebankan biaya Rp. 2.000.000 untuk mengikuti pendidikan. Alhasil, hanya sedikit saja buruh yang mau mengikuti pendidikan karena mahal. Paling-paling perwakilan pengurus serikat di tingkat pabrik yang diutus oleh kawan-kawannya dengan uang iuran, tentu saja..
Dari cerita ini, ada dua masalah pendidikan serikat buruh. Pertama, mahal sehingga tak terjangkau. Biaya pendidikan buruh sebesar 1 juta rupiah itu sama artinya menghabiskan sepertiga gaji seorang buruh. Jika mahalnya pendidikan ini terjadi di kampus-kampus besar yang semakin dikuasai modal swasta, adalah suatu bentuk kegagalan pemerintah dalam menyediakan pendidikan terjangkau untuk rakyatnya. Tapi ini terjadi di serikat-serikat besar yang katanya ingin mencerdaskan anggota.
Kedua, pendidikan buruh bersifat perwakilan. Jadi, hanya segelintir “buruh pilihan” yang dapat mengenyam pendidikan. Pola pendidikan semacam ini hanya mencetak elit buruh yang doyan mengejar jabatan karir belaka, kelas penindas baru yang akhirnya berkhianat terhadap kelas buruh.

Jadi, jangan heran, jika ada kelompok yang ingin membuat pendidikan gratis atau terjangkau buat buruh, dianggap ancaman yang harus disingkirkan dengan segala cara. Seringkali persoalannya bukan karena perbedaan ideologi, teori dan cara pandang, tapi karena khawatir “tersaingi” dan munculnya buruh kritis yang menuntut dialog. Padahal, kunci sukses gerakan buruh adalah munculnya kelas buruh yang terdidik dan berkesadaran politik. Jadi, pendidikan untuk buruh itu seharusnya seluas-luasnya.
Ketiga, jika diperiksa kurikulum pendidikan serikat buruh, sebagian besar masih mengacu pada kurikulum lama peninggalan SPSI–maklum, banyak serikat buruh yang berani bikin serikat baru setelah Suharto tumbang, bukan perlawanan MATI-MATIAN. Kurikulum yang masih kosong isian politik dan berusaha menemukan titik kompromi yang besar dengan pengusaha. Konsekuensi, buruh tak diajarkan bagaimana membangun kekuatan sendiri baik dalam pemogokan maupun dalam politik.
Di tingkat pabrik, buruh dibiasakan berkompromi dengan pengusaha dan di tingkat politik, mendukung elit-elit politik yang sebenarnya tak punya jejak rekam dalam membela buruh.
Di dalam buku Pendidikan Kaum Tertindas, Paulo Freire menjelaskan pendidikan semacam ini telah gagal menjelaskan akar penindasan kelas tertindas dan bersifat anti dialog, sehingga hanya menghasilkan penindas-penindas kecil-baru.

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close