Pekerja PLTU Palu Ingin Bentuk Serikat

union busting
Foto ilustrasi. Sumber: Infogsbi.org

Solidaritas.net, Palu – Situasi kerja yang penuh ketimpangan kerap kali menjadi motivasi bagi para pekerja untuk membentuk sebuah serikat. Itu karena para pekerja beharap, dengan adanya serikat maka setiap hak mereka dapat diperjuangkan.

Seperti halnya keinginan puluhan pekerja PLTU Kota Palu, bidang pengontrol komputer untuk membentuk sebuah serikat. Pasalnya ditempat mereka bekerja banyak terjadi ketimpangan.

Adanya perbedaan upah antara pekerja yang satu dengan pekerja lainnya menjadi salah satu alasannya. Sebab menurut salah seorang pekerja, jabatan mereka adalah sama. Maka tidak seharusnya upah mereka dibedakan.

“Pekerja asal Kalimantan bisa diupah sampai Rp. 8 juta setiap bulannya sedangkan kami yang asli Palu hanya diupah sekitar Rp. 2 jutaan setiap bulannya. Padahal posisinya sama,” jelas salah seorang pekerja, Syafiudin kepada Solidaritas.net pada Sabtu (15/8/2015).

Masih menurut Syafiudin, hal itu terjadi karena perusahaan mengedepankan pengalaman. Padahal menurutnya pekerja asal Kota Palu pun sudah terbilang lama bekerja di PLTU.

Ia juga menegaskan bahwa sistem upah di perusahaan tersebut tidak dapat dilakukan dengan menggunakan standar Upah Minimum Kota (UMK) Palu yang berkisar Rp. 1,6 juta per bulannya. Selain nominal tersebut terbilang kecil , harapannya pengupahan dilakukan berdasarkan sektor pekerjaan.

Dimana PLTU merupakan perusahaan sektor Energi Simber Daya dan Mineral (ESDM). Upah pekerja PLTU di Kota Palu yang hanya Rp 2 jutaan sangatlah kecil dibandingkan dengan PLTU di daerah lain yang menggaji pekerjanya sebesar Rp 5 juta per bulan, seperti PLTU di Jawa, Sumatra, Makassar.

“Saya berharap upah disini bisa sesuai standar upah sektor ESDM,” tegas Syafiudin

Perusahaan milik Luhut Panjaitan ini juga memberlakukan sistem pengurangan hak cuti pekerja apabila pekerja meminta izin.

Mengenai serikat, Syafiudin mengaku bahwa pihaknya ingin mendirikan serikat yang benar-benar dapat memperjuangkan hak buruh. Bahkan ia menegaskan kesiapannnya membayar iuran per bulan.

“Kalau upah kami naik, iuran Rp. 100.000 per bulan tidak masalah,” ungkapnya menjelaskan kesiapan membayar iuran untuk serikat

Pekerja PLTU Kota Palu memang sempat dinaungi Konfederasi Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (KSBSI). Menurut Syafiudin berada dalam serikat itu justru membuat kondisi pekerja semakin buruk, dimana upah pekerja justru disesuaikan dengan UMK Palu.

Disinggung soal serikat yang akan dibentuk, Ia mengaku belum mengetahui akan membentuk serikat apa. Ia hanya berharap dapat membentuk serikat yang dapat menopang pekerja dan di dalam serikat itu ia bersama pekerja lainnya dapat berjuang berssama.

“Belum tau akan membentuk serikat apa, asal jangan KSBSI lagi. Kami butuh persatuan, yaitu dengan berserikat. Melalui berserikat kami akan berjuang bersama,” katanya

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan