Nuraini, BMI yang Alami Penyiksaan Meninggal Dunia

nuraini
Nuraini.

Solidaritas.net, Jakarta – Nuraini (32), buruh migran Indonesia (BMI) asal Sumbawa yang pernah bekerja di Kuwait selama 10 tahun dan mengalami penyiksaan selama 8 bulan, meninggal dunia di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jumat (2/10/2015).

Nuraini disekap dan disiksa oleh majikannya hingga polisi Kuwait menemukan dan ia dipulangkan pada Februari 2014. Ia mengalami kelumpuhan karena selama 8 bulan penyiksaan, kakinya diikat hingga menempel ke paha. (Baca juga: Jadi TKW di Kuwait, Nuraini 8 Bulan Disiksa! Hampir 10 Tahun Tak Digaji!)

Selama ini Nuraini harus menggunakan kursi roda untuk membantunya berjalan, dokter memberikan harapan ia bisa berjalan kembali jika dioperasi. Hingga akhirnya Nuraini dirujuk dari rumah sakit (RS) Polri ke RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), Senin (13/7/2015), untuk dioperasi. Namun, setelah dioperasi ia justru mengalami koma berminggu-minggu dan di hari Jumat itu, perjuangan hidupnya berakhir. Jenazahnya dipulangkan ke kampung halamannya di Sumbawa untuk dimakamkan. (Baca juga: [Foto] Nuraini Dirujuk ke RSCM, Dokter Beri Harapan Bisa Berjalan Kembali)

Pada Desember 2014, kepada Solidaritas.net, Nuraini sempat menceritakan nasibnya selama menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Kuwait, negeri penghasil minyak.

“Saya di siksa, Pak. 8 bulan di siksa. Pelakunya majikan perempuan. Ibu Fatma. Kaki saya di ikat pakai tali nilon. Saya tak punya daya untuk melepasnya. Saya disekap di kamar “gudang” tempat saya tidur. Saya sudah teriak-teriak tapi tidak ada yang menolong. Di rumah hanya saya dan Ibu Fatma. Majikan laki-laki pergi ke kampungnya. Ketiga anaknya pergi ke tempat nenek mereka. Paha kanan kiri saya di tusuk pakai besi. Setiap kali saya teriak mulut saya dipukul sampai 2 gigi saya rusak. Atau kadang saya dicambuk. Makan 2-3 hari sekali. Cuma makan mie. Itu pun Bu Fatma melempar makanan pada saya sembari teriak. “Hei Anjing, makan nich!”. Saya gak bisa kemana-mana. Makan di situ. Tidur di situ. Beol dan kencing pun di tempat itu. 8 bulan Pak! Akhirnya kaki saya nempel ke paha. Enggak bisa gerak. Kaku,” kisahnya, pilu.

Ia menceritakan hal tersebut sembari meneteskan aimata. Sesekali Ia mengusap airmatanya menggunakan ujung kain jilbabnya. Kadang Ia juga menggunakan sepotong bambu kecil untuk menggaruk kakinya yang katanya gatal. Sedangkan saat ditanyai cita-citanya kedepan, Nuraini hanya tersenyum getir.

Nuraini dipulangkan ke Indonesia setelah ditemukan oleh polisi Kuwait. Nuraini lumpuh dan negara enggan bertanggungjawab. Setelah Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) bersama Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) melakukan aksi beberapa kali ke Kementerian Tenaga Kerja, Nuraini dimasukan ke rumah sakit Polri. Nuraini juga pernah mengikuti aksi memperingati Hari Pekerja Rumah Tangga (PRT) Internasional bersama PPRI, Selasa (16/6/2015). (Baca juga: [Video] Pesan Nuraini di Hari PRT Sedunia 2015)

Dalam orasinya yang singkat, ia menuturkan keinginan ingin sembuh dan bisa berjalan kembali, serta hak-haknya selama 10 tahun dibayar.

Selamat jalan, Nuraini. Penderitaanmu telah berakhir, perjuanganmu kami lanjutkan…

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan