Mogok dalam Arti Sebenarnya

Solidaritas.net – Dewasa ini, banyak aksi-aksi yang diklaim sebagai suatu pemogokan, tapi tidak terpenuhi pengertian dan syarat pemogokan yang sebenarnya. Pentingnya memahami pengertian mogok agar buruh tidak terjerumus ke distorsi (pengacauan) makna ‘mogok’, yang akibatnya kesalahan menilai kekuatan sendiri karena ungkapan-ungkapan bombastis (yang dibesar-besarkan) yang tidak menggambar keadaan sebenarnya.

Mogok adalah penghentian proses produksi demi suatu tuntutan tertentu, lain tidak. Dalam realitas, ada dua kemungkinan sebab proses produksi berhenti. Pertama, buruh secara sadar berhenti bekerja dan keluar pabrik. Inilah mogok yang paling baik, yang muncul karena kesadaran buruh sendiri.

Kedua, pemblokiran kawasan dan jalanannya sehingga sebagian besar buruh tidak bisa masuk ke pabrik untuk bekerja. Mogok semacam ini dicapai dengan adanya kelompok kekuatan pelopor yang melakukan pemblokiran kawasan.

Pada kenyataannya, kedua kemungkinan tersebut di atas terjadi. Mogok tidak disebabkan oleh satu variabel saja, bisa oleh kedua-duanya. Tinggal bagaimana kita memahami syarat yang mana paling dominan terpenuhinya suatu pemogokan, apakah karena syarat ‘kesadaran buruh’ atau syarat ‘pemblokiran kawasan’. Sekali lagi, mogok yang paling baik adalah mogok yang terjadi saat buruh berhenti bekerja lebih banyak karena kesadarannya sendiri, bukan karena kawasan terblokir sehingga buruh tidak bisa masuk ke pabrik.

Pemogokan bisa terjadi di tingkat pabrik, kawasan, sampai tingkat nasional yang melibatkan buruh di berbagai kota dalam satu negeri. Pemogokan yang lebih luas dilakukan bukan saja karena tuntutan yang sama, tapi karena hubungan produksi itu bersifat luas, tidak hanya melibatkan satu atau dua pabrik.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan