Marsinah, Buruh Pembela Klas Pekerja

(Videlya Esmerella*)

8 Mei 2015 kembali di peringati sebagai Hari Marsinah di Indonesia. Di Makassar khususnya, aliansi yang menyatakan diri dalam SORAK mengenang sosok Marsinah dengan mengadakan Malam Renungan bertempat di Taman Indosat di jalan Jendreal Ahmad Yani. Sebelum memulai malam renungan, mereka yang tergabung dalam SORAK melakukan Long March dari Monumen Mandala ke Taman Indosat seraya berkampanye mengajak elemen masyarakat untuk lebih mengenal sosok Marsinah.

marsinah
Marsinah. Kredit foto: Arahjuang.com.

Tersebutlah Marsinah seorang buruh di PT Catur Putra Surya yang gembira dengan keluarnya surat edaran yang isinya adalah naiknya gaji pokok di kisaran 20%. Saat itu, gaji pokok di kisaran 1700 rupiah dan dengan adanya surat edaran tersebut gaji pokok naik menjadi 2250 rupiah. Tentu saja kabar ini adalah hal yang menggembirakan bagi para buruh termasuk Marsinah, namun PT Catur Putra Surya mengganggap berita ini adalah berita yang tidak menggembirakan, karena dengan kenaikan sebesar itu dianggap memberatkan perusahaan. Marsinah pun bersiap memimpin teman-temannya, antara tanggal 1 Mei hingga 5 Mei, gadis kelahiran 10 April 1969 ini mempersiapkan aksi-aksi yang menuntut agar PT CPS untuk melaksanakan surat edaran gubernur Jawa Timur, namun tampaknya ada pihak pihak yang tak ingin para buruh ini bergerak untuk melakukan tindakan aksi, karena Marsinah dianggap “vocal” maka ia pun diincar. Mayat Marsinah ditemukan di hutan di dusun Jegong, desa Wilangan dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat pada 8 Mei 1993.

Malam renungan diisi dengan pembacaan puisi, musikalitas, dan testimoni-testimoni yang mempersoalkan masalah-masalah penindasan terhadap rakyat. Antara lain, testimoni korban penggusuran Pandang Raya dan mahasiswa UVRI akan terbungkamnya demokratisasi di kampus. Yang menyentuh dari malam renungan ini adalah testimoni dari sosok Ana, aktivis SP Angging Mamiri-Makassar, yang juga adalah mantan buruh migran di kebun kelapa sawit di negeri Jiran Malaysia.

Mengutip kalimat Ana: “Ketika kami bekerja dengan jam kerja yang panjang dan dalam tekanan para mandor dan algojo penjaga kebun kelapa sawit, pemerintah hanya melabeli kami sebagai penyumbang devisa saja”.

Buruh hanya ingin mendapatkan keadilan. Orang hidup butuh pekerjaan. Namun bukan berarti pekerja bisa ditindas begitu saja oleh pemodal. Hasil produksi juga harus bisa dinikmati oleh buruh. Selama 22 tahun terakhir, setelah Marsinah dibunuh, tidak ada perubahan yang signifikan. Sekarang justru semakin parah dan semakin tidak jelas. Kepastian kerja dan penghidupan yang layak bagi rakyat masih jauh dari harapan. UU Ketenagakerjaan yang telah direvisi tetap tidak memihak kepada kepentingan kaum buruh. Penghisapan yang vulgar atas buruh seperti upah yang rendah, jam kerja yang masih panjang, dijalankannya sistem outsourcing dan kerja kontrak, tidak diterapkannya jaminan keselamatan kerja oleh tiap pengusaha, pemberangusan serikat buruh adalah segelintir bukti ketidakmampuan pemerintah mengurus masalah ketenagakerjaan di Indonesia.

Presiden RI silih berganti berkuasa namun kejelasan kematian Marsinah tetap nihil. Hukum di negeri yang demokratis ini seakan juga terkubur dengan jasad Marsinah. Skenario besar untuk membunuh Marsinah masih tertutup rapat. Fenomena hukum dan keadilan yang nyaris terhukum. Sistem hukum yang selalu menempatkan keadilan buruh pada strata terendah.

*) Penulis adalah anggota Kongres Politik Organisasi Perjuangan Rakyat Pekerja (KPO-PRP) dan organiser buruh di Makassar.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan