Mari Berhadap-hadapan dengan Garda Bima Sakti

Category: Arsip 49 0

Oleh: Surya Anta*

Kabar Apindo Kepri mendirikan Garda Bima Sakti untuk menghadapi demonstrasi buruh tak perlu heran. Mengapa? Karena selama tiga tahun terakhir ini, gelombang perlawanan buruh berhasil mendapatkan kemenangan-kemenangan kecil. Dan kemenangan kecil ini tentu mengkhawatirkan pengusaha. Padahal, kemenangan kecil, seperti misalnya pengangkatan buruh kontrak dan outsourcing , upah naik 10-30 persen, sesungguhnya tak akan membuat keuntungan pengusaha jatuh secara drastis, apalagi bangkrut.

Garda Bima Sakti dilatih oleh Yonif 134/TS di Aula GSG Mako Yonif 134/TS, Barelang Batam pada awal September lalu. Kredit: korem033wp.mil.id
Garda Bima Sakti dilatih oleh Yonif 134/TS di Aula GSG Mako Yonif 134/TS, Barelang Batam pada awal September lalu. Kredit: korem033wp.mil.id

Namun, politik upah murah dan status kerja tak jelas, memang salah satu siasat bagi pengusaha “kelas teri” di negeri ini. Dengan modal yang cekak, teknologi rendah, manajemen serampangan, tak akan menang dalam persaingan pengusaha-pengusaha asing yang tinggi teknologi, padat modal, dan inovatif. Jadi, pada dasarnya, kekhawatiran pengusaha atas tuntutan kenaikan upah buruh bukan lah karena takut bangkrut, melainkan takut tak bisa “cepat” berkembang dan mengejar kompetitornya. Bagi pengusaha asing, upah murah dan ketidakjelasan status kerja, merupakan siasat agar grafik keuntungannya tidak stagnan, melainkan terus berkembang berkali-kali lipat.

Ancaman Apindo dengan mendirikan Garda Bima Sakti sebaliknya harus kita anggap sebagai: Pertama, kenyataan bahwa kaum kapitalis dan aparatus negara semakin sadar bahwa buruh punya kekuataan yang ril. Kedua, perjuangan kaum buruh diperhadapan dengan kesulitan-kesulitan yang baru. Dan kaum buruh harus siap dengan kesulitan-kesulitan yang baru. Harus siap dengan segala ancaman yang akan menghadang.

Kesiapan menghadapi serangan-serangan ekonomi, undang-undang anti demokrasi, pemberangusan kebebasan berserikat, maupun tindakan represif dari tentara, polisi dan preman bayaran harus terus dipikirkan seiring dengan kenyataan bahwa musuh-musuh kaum buruh mulai belajar dari pengalaman kekalahan mereka.

Kesiapan dan persiapan ini lah yang harus dimatangkan dan serangan balik harus dihadapi, bukan mundur, atau menjalankan siasat-siasat kompromi yang justru mencederai dan mengkhianati perjuangan buruh. Mari kita tarik pengalaman serangan preman pada geruduk pabrik dan mogok nasional tahun lalu. Penganiayaan oleh preman bayaran Apindo tak mungkin bisa diredam hanya dengan mundur dan menyatakan “kaum buruh tak mau cari ribut”. Tujuan Pengusaha, Apindo, dan preman bayaran adalah menakut-nakuti buruh agar tidak memenangkan tuntutannya, dan hal tersebut akan dilakukan dengan segala cara, termasuk dengan cara-cara kekerasan sekalipun.

Apalagi, siasat komprominya adalah, dengan mendukung calon presiden yang juga adalah Dewan Pembina ormas yang menggebuk buruh saat mogok nasional dan geruduk pabrik tahun lalu. Bagaimana mungkin memenangkan tuntutan dengan mendukung Dewan Pembina organisasi preman yang gemar menganiaya buruh. Tujuan minimum kaum buruh adalah menaikkan upah, menghapuskan outsourcing, menghapuskan sistem kontrak, dan tak mungkin terwujud dengan cara menitipkan pada pengusaha sekaligus Dewan Pembina organisasi preman tersebut.

Kekuatan buruh hanya terletak pada kesatuan dan kesolidannya. Sehingga menghadapi massa bayaran seperti Gibas, Ikapud, ataupun Garda Bima Sakti, kesatuan dan kesolidan itu lah yang harus di kedepankan, bukan siasat-siasat busuk dengan menjilat tokoh yang terbukti dalam sejarah anti terhadap kebebasan politik dan diduga kuat menculik aktivis-aktivis yang memperjuangkan demokrasi dalam gerakan reformasi 98.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan dalam menghadapi serangan balik pengusaha ini:

Pertama, meyakinkan kekuatan terletak pada persatuan kaum buruh itu sendiri dan solidaritas antar rakyat.

Kedua, melatih diri untuk siap dalam menghadapi serangan mendadak dari pengusaha, preman bayaran dan penguasa.

Ketiga, melakukan pemetaan terhadap kawasan, baik jalur serangan, jalur bertahan dan mempersiapkan jalur mundur.

Keempat, membaca dan menganalisa pola-pola serangan yang dilakukan pengusaha dan aparat Negara dari pengalaman-pengalaman berbagai daerah maupun internasional. Serangan dan pemberangusan terhadap gerakan rakyat di Chile pada kurun 70an menggunakan pola dan sandi Jakarta.

Kelima, melatih anggota-anggota termaju dari buruh untuk melakukan latihan fisik dan keberanian.

Keenam, melakukan simulasi bersama antar serikat buruh dalam melakukan latihan gabungan mengantisipasi serangan terhadap buruh.

Ketujuh, memberikan solidaritas kepada kelompok masyarakat lainnya, dan mengajak mereka untuk terlibat dalam membela kepentingan buruh. Dalam pengalaman geruduk pabrik, kemenangan tuntutan buruh tak jarang pula karena adanya dukungan fisik dan moril dari masyarakat kampung kepada serikat buruh, seperti pengalaman GSPB PT Agel Langgeng yang didukung oleh masyarakat kampung.

*) Penulis adalah Juru Bicara Partai Pembebasan Rakyat

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close