Mahasiswa Yogyakarta Bersatu, FUI Gagal Bubarkan Acara Nonton Senyap

Solidaritas.net, Yogyakarta – Hari ini, Rabu 11 Maret 2015, kekuatan persatuan mahasiswa di Yogyakarta berhasil menjaga demokrasi di dalam kampus. LPM Rhetor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga bersama dengan persatuan mahasiswa yang tergabung dalam Front Gerakan Mahasiswa se DIY berhasil menghadang milisi sipil reaksioner yang hendak membubarkan acara “Nonton bareng film Senyap dan diskusi publik” yang diadakan oleh LPM Rhetor. Front Gerakan Mahasiswa Yogyakarta ini terdiri dari PEMBEBASAN, PPMI, PPR, SMI, FMN, LPM Arena, LPM Ekspresi, LPM Nuansa, FMN, HMI, PMII, IMM, KPO PRP, dan seterusnya, sedangkan milisi sipil reaksioner yang mengancam mengatasnamakan dirinya Front Umat Islam (FUI) Yogya.

pemutaran film senyap di yogyakarta
Suasana pemutaran film Senyap di Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 11 Maret 2015. Foto: Fullah J.

Kronologi ceritanya adalah dari dua hari sebelumnya, tepatnya hari Senin 9 Maret 2015, intimidasi terhadap penyelenggaraan acara ini sudah datang dari pihak rektorat kampus dengan mencabut izin penyelanggaran acara. Alasan menjaga stabilitas keamanan kampus dan peraturan kesultanan terkait “Jogja Istimewa” menjadi dalih pelarangan. Berbagai macam ancaman datang dari pihak kampus yang diwakili oleh Wakil Rektor 3. Dari mulai tidak diberikan fasilitas dari kampus sampai hukuman pidana bagi penyelenggara apabila terjadi kerusuhan. Namun, hal tersebut justru semakin menguatkan mahasiswa untuk tetap bertahan menyelenggarakan acara pada hari Rabu hari ini.

Dimulai dari sekitar pukul 08.00 WIB tempat penyelenggaraan acara di gedung Student Center sudah ramai oleh peserta yang akan menonton, namun dihadang oleh pihak keamanan kampus dan ada rektor beserta jajarannya berusaha menghentikan acara. Sempat terjadi beberapa kali negosiasi antara pihak kampus dengan panitia. Sampai pukul 09.00 gerbang barat UIN Sunan Kaijaga sudah dipenuhi oleh barisan pria bercadar dan baju putih yang mengatasnamakan Front Umat Islam (FUI) Yogyakarta tersebut. Polisi datang berkedok untuk mengamankan kampus dan mencegah kekacauan dengan berjaga di gerbang timur kampus.

Sebelum adanya polisi, sudah ada di bagian dalam kampus tim keamanan yag dibentuk front mahasiswa. Mereka sudah siap siaga di berbagai pos dari pukul 07.00. Sembari di luar ada tim keamanan dari mahasiswa yang berjaga, beberapa panitia di dalam melakukan negosiasi yang alot dengan pihak rektorat. Mahasiswa tetap akan melaksanakan acara tersebut, ini dibuktikan dengan teriakan mahasiswa yang hendak menonton acara dan disobeknya surat pelarangan dari pihak rektorat oleh pimpinan umum LPM Rhetor selaku negosiator.

Sekitar pukul 10.00 acara nonton film dimulai dengan estimasi peserta yang hadir mencapai kurang lebih 200 peserta baik dari mahasiswa maupun masyarakat sipil. Acara dibuka dengan beberapa sambutan dari panitia dan perwakilan dari berbagai organisasi yang tergabung dalam Front Gerakan Mahasiswa DIY.

“Demokrasi perlu diperjuangkan, terlebih demokrasi di dalam kampus, sehingga pelarangan yang terus dilakukan harus dilawan dan acara kali ini akan tetap berjalan”, kata salah seorang orator.

 

“Apabila pemutaran film diserang, maka massa yang ada di sini harus ikut melawan untuk memperjuangkan demokrasi,” kata Mirza Asahan, dari Pembebasan Yogyakarta.

Akh. Minhaji selaku rektor UIN sempat menghampir peserta dengan maksud untuk membubarkan acara pemutaran film karya Joshua Oppenheimer ini. Alasannya, peredaran film ini belum mendapatkan izin dari pemerintah. Namun, pihak panitia membantah dan menjelaskan bahwa pemutaran film berjudul asli The Look of Silence ini didorong oleh Komnas HAM selaku lembaga resmi negara. Akhirnya Minhaji keluar gedung Student Center, dan film Senyap pun diputar. Sampai akhir acara, sekitar pukul 14.00 WIB acara tetap berjalan lancar. Massa dari FUI tidak berani menyerang ke dalam.

Ini adalah pertama kalinya diskusi dan nonton film Senyap terbuka tidak berhasil digagalkan di Yogyakarta. Setelah sebelumnya AJI Yogyakarta dan beberapa kampus seperti UGM, ISI, UST, Sanata Darma, dll berhasil digagalkan oleh militer dan milisi sipil reaksioner.

Menjadi penting diketahui bukan karena polisi yang berjaga di gerbang yang membuat acara tetap berjalan. Bukan pula kebaikan rektor, rektor sudah jelas melarang. Militer dalam hal ini polisi yang berjaga, mereka tidak mendukung acara. Ini dibuktikan dengan selepas acara kantor LPM Rhetor disisir oleh kepolisian dan pimpinan LPM Rhetor diminta melakukan mediasi dengan kepolisian.

Menjadi jelas kiranya, bahwa ini terjadi karena keberanian dan kekuatan mahasiswa yang bersatu mempertahankan demokrasi. Massa yang hadir untuk menonton yang terbilang banyak menjadi bukti bahwa mahasiswa semakin resah dan banyak orang yang ingin tahu akan kebenaran sejarah. Panitia yang tetap mempersiapkan acara meski berkali-kali diintimidasi oleh pihak kampus dan sempat terjadi perebutan layar dengan tim keamanan dan pintu gedung yang hendak digunakan dikunci oleh pihak keamanan. Kesatuan dan keberanian Front Gerakan mMhasiswa Yogyakarta dalam menjaga keamanan dan mendorong massa untuk mendukung acara tetap berjalan.

Komitmen dari persatuan ini adalah: jika acara dibubarkan, maka massa mahasiswa akan tetap bertahan dan melawan. Peralatan tempur sudah dipersiapkan dan siap menyerang milisi sipil reaksioner berkedok Islam itu. Acara pemutaran film senyap yang berhasil di Yogyakarta hari ini, semakin menguatkan kepercayaan diri kita bahwa demokrasi dapat diperjuangkan. Kekuatan persatuan yang terorganisir dalam membangun perlawanan terhadap kelompok anti demokrasi adalah kuncinya. Lestari perjuangan rakyat untuk demokrasi dan kesejahteraan, sampai menang.

Berikut foto-fotonya acara pemutaran film Senyap di UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 11 Maret 2015 (Kredit foto: Beujroh, Pembebasan):

[RPG id=4533]

Penulis adalah mahasiswi Program Studi Jurnalistik di UIN Sunan Kalijaga, anggota Pembebasan Yogyakarta, dan juga salah seorang panitia acara pemutaran film Senyap di UIN Sunan Kalijaga.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan