Korea Selatan, Bangsa yang Tidak Bahagia

bunuh diri
Seorang pria di Korea Selatan bersiap melakukan bunuh diri dengan melompat dari ketinggian.

Di balik gemerlap artis-artis K-Pop yang digemari oleh banyak remaja Indonesia, ternyata masyarakat Korea Selatan tergolong  tidak bahagia. Kaum buruh juga mengenal Korea Selatan sebagai asal perusahaan-perusahaan yang banyak beroperasi di Indonesia. Ketidakbahagiaan orang Korea Selatan dibuktikan dengan tingginya angka bunuh diri di negeri Gingseng ini sebagaimana yang dilaporkan oleh Aljazeera, berikut ini:

Korea Selatan: Bangsa Bunuh Diri

People & Power selidiki kenaikan angka bunuh diri di Korea Selatan yang menggelisahkan, terutama di kalangan orang tua.

Kesepian, kemiskinan, penyakit kronis, kehilangan pekerjaan, kematian orang yang dicintai atau kehancuran rumah tangga – begitu banyak alasan yang mendasari orang-orang untuk hanyut ke dalam kemasygulan dan keputus-asaan. Namun, syukurlah sebagian besar dari kita mampu menemukan jalan keluar ataupun cara untuk mengatasi kesedihan.

Bahkan bagi orang-orang yang tidak mampu, kesedihannya berubah menjadi ‘anjing hitam’ atas limpahan depresi klinis, pertolongan tepat– baik penanganan medis, pengertian dari terapis atau kasih sayang dan dukungan dari keluarga dan teman-teman akan berperan sebagai hal penting untuk mampu mengatasi kesedihan. Pada akhirnya terjadilah penyembuhan, keseimbangan dan perspektif dipulihkan.

Tetapi bagi sebagian orang, depresi bisa menjadi sangat kuat sehingga semua hal diatas tidak ada gunanya. Berbagai pengobatan dan bantuan seakan tidak berarti dan hanya akan tampak sebuah jalan keluar – untuk mengakhiri segalanya dengan mengambil nyawa sendiri. Tentu saja langkah ini adalah akhir dan ciri mutlak keputusasaan, tindakan tragis nan sia-sia tersebut seringkali menghancurkan orang-orang yang ditinggalkan, dengan sangat kejam.

Namun banyak orang yang masih melakukan bunuh diri. Sebanyak ribuan orang per tahun melakukan bunuh diri di berbagai belahan dunia; jiwa tersesat yang kesehatan mentalnya telah rusak dan terentang melampaui titik puncak.

Anehnya, beberapa masyarakat dan budaya tampak lebih rentan terhadap aksi bunuh diri. Sebagai contoh lihatlah Korea Selatan dimana bunuh diri menduduki peringkat keempat alasan umum penyebab kematian dengan sedikitnya 40 orang mengakhiri hidup setiap hari. Dalam delapan tahun terakhir, Korea Selatan telah menjadi negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia industri (kedua tertinggi sedunia setelah Guyana). Yang lebih mengherankan lagi, sekarang ini bunuh diri adalah penyebab utama kematian penduduk Korea Selatan dengan rentang usia 10-30 tahun.

Tinjauan lebih dalam terhadap angka statistik ini (dihimpun karena bangsanya telah merasa lebih prihatin atas fenomena ini), Anda akan tahu jika angka bunuh diri pria dua kali lebih banyak daripada wanita; anak-anak dan remaja akan mengungkapkan tekanan hidup dalam masyarakat yang penuh persaingan atau tekanan atas nilai ujian dan seleksi masuk perguruan tinggi adalah alasan utama pemicu bunuh diri; pada usia paruh baya, umumnya bunuh diri disebabkan oleh kekhawatiran terhadap masalah ekonomi pribadi; dan orang tua akan melakukan bunuh diri (atau mempertimbangkan untuk bunuh diri) karena adanya isolasi sebagai hasil dari perpecahan keluarga tradisional.

Setiap fakta dan angka tersebut sangatlah mudah untuk dijabarkan. Menyembunyikan kisah sedih sendiri, sebuah kehidupan yang entah bagaimana telah kehilangan arti dan tujuan atau penderitaan tak tertahankan yang telah menangis kencang demi sebuah kebebasan. Semua hal tersebut masih belum mampu menjelaskan mengapa penduduk Korea Selatan lebih rentan melakukan bunuh diri dibandingkan dengan, misalnya, penduduk Namibia atau Islandia.

Film karya Veronique Mauduy dibuat untuk mengusut pertanyaan tersebut, serta untuk mencari tahu apa saja yang dilakukan oleh pihak Korea Selatan untuk mengembalikan rakyatnya yang rentan dari keterpurukan.

https://www.youtube.com/watch?v=MFD61MzDiHI

Sumber: Aljazeera

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan