Joshua Oppenheimer dan Anonymous Menangkan Tasrif Award

joshua oppenheimer
Joshua Oppenheimer.

Solidaritas.net, Jakarta- Sutradara Joshua Oppenheimer dan Anonymous memperoleh Tasrif Award pada Hari Ulang Tahun Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia ke-21. Pemberian penghargaan tersebut dilakukan dalam malam resepsi HUT AJI ke-21 di Gedung Pusat Perfilman Usmar Ismail, Jl Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Jumat (4/9/2015) malam.

Tasrif Award diberikan kepada keduanya karena film karya Joshua Oppenheimer dan anonim yakni “Jagal” dan “Senyap” berhasil mengungkap fakta peristiwa pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) pada 1965-1966 dari perspektif yang berbeda.

“Tanpa pengungkapan fakta atas pembantaian 1965-1966, proses rekonsiliasi mustahil dilakukan. Pengalaman di banyak negara menunjukkan rekonsiliasi tidak akan pernah tercapai jika kebenaran tidak diungkap dan diakui,” tulis @AJIIndo pada akun twitternya, Sabtu(5/9/2015)

Sayangnya, pada malam pemberian award itu Joshua Oppenheimer tidak sempat hadir. Meskipun begitu ia telah menyampaikan terima kasihnya melalui rekaman pidatonya yang berdurasi 03.00 menit. Selain ucapan terima kasih, Joshua juga mededikasikan Tasrif Award kepada seluruh korban pelanggaran HAM 1965-1966.

“Sungguh sebuah kehormatan bagi kami. Ini pertama kali kami menerima penghargaan dari Indonesia. Kami juga tak mungkin menerima penghargaan ini tanpa dukungan teman-teman. Izinkanlah kami berbagi dengan teman-teman pers lainnya. Penghargaan ini kami dedikasikan kepada korban pelanggaran HAM ,” kata Joshua, dilansir dari riauonline.co.id.

Tasrif Award memang ditujukan kepada individu/kelompok/lembaga yang gigih menegakkan kebebasan pers, kebebasan berekspresi, dan nilai-nilai keadilan serta demokrasi. AJI Indonesia sendiri membangun tradisi penghargaan Tasrif Award untuk menghidupkan semangat Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia itu memperjuangkan kemerdekaan pers dan kemerdekaan berpendapat.

Diketahui, Film “Jagal” menuturkan kesaksian pelaku pembantaian 1965-1966 di Sumatera Utara yang dipublikasikan pada 2013 dengan versi berbahasa Inggris berjudul “The Act of Killing”. Sementara “Senyap” yang menuturkan kesaksian para korban dipublikasikan pada 2014, dengan versi berbahasa Inggris yang berjudul “The Look of Silence”.

Sejak diluncurkannya, “The Act of Killing” dan “The Look of Silence” meraih puluhan penghargaan dari berbagai negara. Salah satunya, penghargaan Utama Juri (Grand Jury Prize) dalam Festival Film Internasional Venezia ke 71 (Venice International Film Festival) di Italia. Film Senyap diproduksi oleh 5 negara, yaitu Denmark, Indonesia, Norwegia, Finlandia, dan Inggris.

Film Senyap juga memenangkan hadiah lainnya, yaitu FIPRESCI Award (Penghargaan Federasi Kritikus Film Internasional) untuk film terbaik, Mouse d’Oro Award (Penghargaan Kritikus Online) untuk film terbaik, Fedeora Award (Federasi Kritikus Film Eropa dan Mediterania) untuk film terbaik Eropa-Mediterania, dan Human Rights Nights Award untuk film terbaik bertema hak azasi manusia.

Bahkan Senyap menjadi film dokumenter pertama yang memenangi penghargaan Mouse d’Oro. Film Senyap menerima penghargaan sebagai film bertema hak azasi terbaik bersama film Io Sto con la Sposa karya Antonio Augugliaro, Gabriele Del Grande, dan Khaled Soliman Al Nassiry.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan