Hitung Pakai Dollar, UMP Jakarta 2015 Malah Turun

Solidaritas.net – Upah Minimum Provinsi (UMP) DKI Jakarta 2015 telah ditetapkan sebesar sebesar Rp 2,7 juta per bulan. Namun, para buruh ternyata masih belum bisa menerima keputusan tersebut. Selain nilainya kalah jauh dari besaran Upah Minimum Kota (UMK) Bekasi, Jawa Barat yang pada tahun 2015 mendatang sebesar Rp 2,9 juta, angka tersebut memang dianggap para buruh belum bisa mencukupi kebutuhan hidup layak (KHL) mereka.

dolar rupiah
© Antaranews.com.

Bahkan, meskipun pemerintah telah menaikkannya hingga 11 persen dibandingkan UMP 2014 yang hanya Rp 2.441.302 per bulan, para buruh malah menganggap nilai UMP DKI Jakarta 2015 itu justru mengalami penurunan. Beberapa alasannya diutarakan oleh anggota Dewan Pengupahan dari Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Dedy Hartono.

“Kalau dihitung dan diakumulasi sebenarnya nilai UMP turun. (Pada saat ini) akhirnya nilai itu akan tergerus dengan kenaikan harga BBM. Jadi kenaikan UMP DKI sebesar 10 persen sama aja bohong,” ungkap Dedy pada Senin (24/11/2014), seperti dikutip dari Detik.com.

Dijelaskannya, nilai UMP DKI Jakarta 2014 sebesar Rp 2.441.302 dihitung saat nilai tukar dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah masih Rp 10.000 per dollar AS. Berdasarkan hitungan dollar AS, maka nilainya setara US$ 241 per bulan. Sedangkan kurs saat ini adalah Rp 12.000 per dollar AS, sehingga UMP DKI Jakarta 2015 hanya senilai US$ 225 per bulan. Dalam kata lain, UMP DKI Jakarta 2015 ini mengalami penurunan sebesar US$ 16 per bulan.

Selain itu, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi juga ikut semakin mengurangi nilai dari UMP ini, karena pastinya harga kebutuhan pokok secara otomatis juga akan naik. Bahkan, saat dilakukan survei Kebutuhan Hidup Layak (KHL), harga beberapa kebutuhan pokok seperti makanan, minuman, hingga sewa kamar pun sudah mengalami kenaikan.

“Saat kami melakukan survei KHL beberapa kebutuhan buruh sudah mengalami kenaikan. Naiknya cukup drastis seperti harga makanan dan minuman dan termasuk harga kos-kosan sudah naik,” jelas Dedy menambahkan alasan UMP DKI Jakarta 2015 harusnya lebih tinggi.

Sebenarnya, menurut Dedy, sejak awal buruh sudah merekomendasikan kepada Pemprov DKI Jakarta agar penetapan nilai UMP DKI Jakarta 2015 menjadi Rp 3 juta. Presiden KSPI Said Iqbal setuju menurunkan tuntutan kenaikan UMP DKI Jakarta dari 30 persen menjadi 22,9 persen atau dari Rp. 3,7 menjadi Rp. 3 juta saja. Namun, ternyata pemerintah merespon langkah tersebut dengan menetapkan UMK yang lebih rendah lagi, yakni hanya Rp 2,7 juta.

(Baca selanjutnya di laman 2)

Oleh karena itu, para buruh berencana akan kembali menyampaikan tuntutan untuk merevisi keputusan tersebut dan menaikkan UMP DKI Jakarta 2015, setidaknya setara dengan UMK Bekasi 2015 sebesar Rp 2,9 juta.

Menurut Dedy, nilai Rp 2,9 juta itu menjadi perbandingan, karena Dewan Pengupahan Kota Bekasi sudah memasukkan nilai inflasi pada tahun 2015, sebagai akibat dari kenaikan harga BBM subsidi sebesar Rp 2.000 per liter. Sedangkan UMP DKI Jakarta 2015 hanya memperhitungkan KHL sebesar Rp 2.538.174,31, ditambah dengan prediksi pertumbuhan ekonomi tahun depan.

“Saya kemarin sudah memformulasikan nilainya sama dengan Bekasi sebesar Rp 2.990.000. Nilai itu karena adanya penambahan inflasi sebesar 5,5 persen dan 10 persen dari nilai konversi terhadap kenaikan BBM. Saya pikir ini angka yang elegan,” tambah Dedy lagi.

Rencananya, mereka akan kembali berunjuk rasa pada Selasa (25/11/2014). Setelah itu, semua buruh dari berbagai daerah akan berkumpul di Jakarta pada Rabu (26/11/2014), untuk berunjuk rasa menyampaikan tuntutan yang sama kepada Presiden Joko Widodo.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan