Buruh Pabrik iPhone Tewas Karena Kelelahan Bekerja

Solidaritas.net – Meski bekerja di perusahaan besar sekalipun, bukan berarti setiap pekerjanya sudah pasti mendapat jaminan bisa bekerja dengan layak. Tidak sedikit perusahan-perusahaan besar yang malah mengabaikan hak-hak para pekerjanya, baik soal kondisi kerja, upah hingga masalah kesehatannya. Makanya, banyak ditemukan kasus pekerja yang mengalami sakit, bahkan tak jarang pula meninggal karena pekerjaannya.

buruh pabrik apple
Tian Fulei. Foto: Dailiymail.

Baru-baru ini, seorang buruh pabrik yang merakit smartphone Apple iPhone di Shanghai, China mengalami nasib tragis tersbeut. Buruh bernama Tian Fulei itu meninggal di usianya yang baru 26 tahun, setelah diduga kuat karena kelelahan bekerja di pabrik milik Pegatron tersebut. Pegatron adalah salah satu manufaktur yang dipercaya Apple untuk merakit iPhone selain Foxconn, dan harus memenuhi banyak pesanan iPhone 6 yang laris manis.

“Kami sering mendengar dia bekerja lembur. Perusahaan seharusnya bertanggungjawab. Ia sehat saja saat masuk ke sana dan lulus tes kesehatan,” ungkap adik perempuan Fulei, Tian Zhoumei, seperti dilansir oleh Detik.com yang dikutip dari DailyMail, Kamis (12/03/2015).

Fulei sendiri ditemukan meninggal dunia pada bulan Februari 2015 lalu di kamar asrama tempatnya tinggal bersama beberapa buruh pabrik yang lain. Menurut Zhoumei, sebelumnya Fulei terlihat dalam keadaan sehat saat mulai bekerja sejak bulan November 2014. Namun, sebelum meninggal, Fulei bekerja begitu keras di pabrik yang berasal dari Taiwan tersebut.

Zhoumei yakin waktu kerja Fulei yang sangat berlebihan menjadi penyebab kematiannya. Menurutnya, sang kakak bekerja hingga 12 jam setiap hari dalam seminggu. Dalam kata lain, Fulei sama sekali tak mendapat libur. Dia rela bekerja seperti itu untuk mengumpulkan uang ekstra, karena mau menikah pada bulan Mei nanti. Gajinya sendiri hanya sekitar 187 poundsterling (sekitar Rp 3,6 juta) per bulannya, yang termasuk cukup rendah di China.

“Menurut perusahaan, dia absen bekerja hari itu dan dia merasa sakit sehingga beristirahat di asrama. Tapi tubuhnya sudah tak bernyawa ketika ditemukan pada malam hari dan ia ternyata meninggal paginya,” tambah Zhoumei lagi mengenai proses kematian kakaknya itu.

Terkait kematian buruhnya tersebut, Pegatron membantah kalau kematian Fulei memiliki hubungan dengan pekerjaan di pabriknya itu. Pegatron mengklaim pihaknya tidak bersalah dalam kasus kematian Fulei. Mereka menyatakan keselamatan pegawai adalah hal yang paling utama dan telah memastikan lingkungan kerja yang sehat bagi setiap pekerjanya.

“Kami sangat berduka dengan meninggalnya Tian (Fulei). Kami menyelidiki kasus ini dengan cepat dan menemukan kalau tidak ada hubungan antara kematiannya dengan tempat kerja. Kami menyediakan dukungan dan bantuan bagi keluarganya,” jawab juru bicara Pegatron.

Sebagai kompensasi, perusahaan tersebut mengaku telah 8.700 poundsterling (sekitar Rp 171 juta) kepada keluarga korban. Sebenarnya, keluarga Fulei merasa tidak puas. Tapi, mereka tidak mau berurusan panjang dengan Pegatron. Apalagi, biaya otopsi untuk menemukan penyebab kematian Fulei sangat mahal, sehingga mereka batal melakukannya.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan