Buruh Harus Sadar Jati Dirinya yang Sebenarnya Agar Tidak Dimanfaatkan Elit Serikat

Category: Arsip 18 0

(Amorfati*)

penindasan sistematisElit sekarang hanya berlomba-lomba untuk mencapai tujuan mereka dengan alasan yang dibuat-buat untuk pencitraan supaya dilihat peduli. Sadarkah buruh pada jati dirinya yang tidak bisa diwakili oleh siapapun kecuali oleh buruh itu sendiri. Buruh tetap saja kuli untuk menafkahi keluarganya, sekalipun tuntutan tercapai. Kalau semua buruh sadar akan dirinya ini, buruh akan terus bergerak dan tidak bisa dipolitisasi. Barulah buruh bisa “bermain”, bukan dipermainkan oleh elit serikat yang suka membual.
Sekarang buruh hanya dimanfaatkan dan dimanipulasi untuk kepentingan pribadi dengan alasan klise: apabila elit serikat bisa duduk di pemerintahan, bisa memudahkan tuntutan buruh. Tapi pada kenyataannya, tidak bisa. Contohnya: dua orang buruh yang duduk di DPRD tidak bisa mewakili buruh. Kalau mereka bisa menganalisa dan memperbaiki keadaan, seharusnya mereka sudah melakukan perbaikan dalam K3 dan kesejahteraan buruh. Mereka kenyatannya tidak berkutik. Kalau mereka memang bisa, sebelum terjadinya kecelakaan dan jatuh korban, seharusnya sudah lebih dulu memperbaiki sistem, evakuasi dan penanganannya.

Jangan hanya menyalahkan pengusaha dan pemerintah, seharusnya serikat meneliti secara detail keadaan fisik dan psikologis karyawan. Keadaan fisik dan psikologis karyawan yang baik, maka kecelakaan kerja tidak terjadi kecelakaan kerja. Misalnya, walaupun di pabrik sudah diterapkan safety yang diklaim baik, tapi keadaan suasana yang tidak nyaman, apakah terlalu panas atau asupan oksigen yang kurang dapat mengganggu konsentrasi dan psikologis karyawan. Ditambah lagi dengan tekanan target dari leader dan manajemen.

Kenapa baru kemarin dibuka pos pengaduan tentang K3, setelah ada korban yang bunuh diri? Padahal kasus ini sudah terjadi sejak lama. Ada apa di balik semua ini?

Pengurus yang dulunya amanah dan peduli tanpa pamrih, sekarang berlomba-lomba mencari kedudukan di pabrik dan di serikat. Mereka mengumbar janji, tapi tidak menepati janji. Pemimpin yang jahil adalah pemimpin yang tidak amanah dan tidak menyuarakan tuntutan buruh sepenuh hati, sedangkan mereka berpendidikan tinggi dan bergelar. Orang yang amanah akan terus bergerak tanpa mengenal waktu dan memperjuangkan buruh yang harus diperbaiki, mencari pelanggaran dan kesalahan penerapan UU Ketenagakerjaan.

Organisasi akan besar apabila memanusiakan buruh dengan membuka segala pengetahuan dan kesadaran dan berbagai aspek lainnya. Jangan seperti mereka yang mengerdilkan buruh dengan doktrin dan doktrin, menganggap diri mereka pejuang bak laksana pahlawan. Membantu buruh terlepas dari masalah adalah perjuangan yang sebenarnya, sehingga buruh sadar bergerak dengan memberikan segala ide pemikiran dan waktu untuk bergerak. Lebih baik menyelamatkan buruh dari PHK daripada menuntut tuntutan yang justru mengorbankan buruh untuk kena PHK.

Belajar ekonomi politik adalah cara “bermain” yang “cantik” untuk menang. Setiap individu buruh juga seharusnya punya skill yang bisa diandalkan sesuai dengan minat masing-masing.

(* Buruh, tinggal di Cikarang)

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close