Batal MODAR, Buruh Aksi ke Mabes Polri

Category: Arsip 20 0
Solidaritas.net, Nasional – Berbagai media sempat memberitakan rencana mogok daerah (MODAR) buruh di daerah-daerah, pada 28-29 November 2013. Namun, rencana mogok daerah buruh pada tanggal tersebut batal dilaksanakan.

Sebelumnya, Presiden Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia (FSPMI) Said Iqbal mengeluarkan surat intruksi Mogok Daerah dengan nomor 012456/org/DPP-FSPMI/XI/2013. Said Iqbal mengintruksikan kepada anggota FSPMI untuk melaksanakan mogok daerah di kawasan industri, lingkungan sekitar pabrik dan kantor-kantor pemerintahan.

Mogok tersebut dilakukan untuk menuntut “kenaikan upah minimum 2014 sebesar 50 %, jalankan jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat Indonesia per 1 Januari 2014, hapus outsourcing sesuai Permenakertrans No. 19/2012, sahkan RUU Pekerja Rumah Tanggal, copot Kapolres Bekasi Isnaeni dan tangkap aktor intelektual kekerasan terhadap buruh,” dikutip dari surat intruksi yang beredar di media sosial Facebook.
Sementara FSPMI Kabupaten Bekasi memutuskan tidak melakukan mogok daerah, tapi aksi ke Mabes Polri dengan tuntutan stop premanisme dan pecat Kapolres Bekasi yang diduga terlibat penganiyaan terhadap kaum buruh. Aksi ini sesuai dengan hasil rapat Konsulat Cabang bersama Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan Pengurus Cabang (PC) FSPMI Bekasi, 26 November 2013.
Namun, pada Rabu (27/11/2013) aksi mogok daerah pada 28-29 November dibatalkan di seluruh daerah dan diundur sampai waktu yang belum diumumkan. Mogok daerah diganti menjadi aksi ke Mabes Polri untuk menuntut pencopotan Kapolres Bekasi, Isnaini. Buruh juga akan menuntut kepada  Kepolisian agar menangkap pengurus Asosiasi Pengusaha Limbah (Aspelindo) Hartono dan Budiyanto sebagai aktor intelektual dibalik kekerasan terhadap buruh pada mogok nasional, 31 Oktober-1 November lalu.
Pro-Kontra
Pembatalan ini menimbulkan pro kontra di kalangan buruh. Sebagian buruh berposisi agar mogok daerah tetap dilaksanakan, namun merasa tidak punya wewenang mengambil keputusan. Sementara, sebagian buruh lainnya setuju pembatalan ini dengan alasan keamanan.
“Mungkin ada benarnya juga kita gak jadi melakukan modar. Mungkin pertimbangannya: 1) gak mungkin bisa ngrubah keputusan gubernur tentang umk…2) mengurangi efek besar yang kemungkinan timbul, spt premanisme dan phk massal…” postingan salah seorang anggota FSPMI, Galih Sigit di salah satu grup di Facebook.
Postingan ini menimbulkan berbagai reaksi. “takut sebelum berjuang…gak akan ada perubahan,” tanggap Santoso Farrel.
“Padahal udah semangat banget….penonton kecewa,” tulis Aries Pandawa.
“intruksinya berubah-ubah, plin-plan,” kata Utom Zaedan.
Salah seorang buruh yang tidak ingin disebut namanya, mengatakan pembatalan mogok daerah ini kemungkinan karena pimpinan merasa tidak sanggup  dengan melihat pengalaman mogok nasional lalu yang menurutnya, gagal. Banyak pabrik besar, seperti MTM, KUI, dan Showa, yang tidak menghentikan proses produksi, padahal para pimpinan FSPMI di tingkat unit pabrik (PUK) sampai pusat berasal dari pabrik-pabrik besar tersebut.
Pengajar ekonomi-politik, Danial Indrakusuma mengatakan butuh latihan stop produk yang merata di semua pabrik. Ini adalah satu-satunya siasat yang ampuh untuk memenangkan tuntutan-tuntutan buruh yang semakin tinggi.
“Ingat: senjata pamungkas buruh itu STOP PRODUKSI. Jadi, walaupun masih latihan STOP PRODUKSI agar lebih merata ke semua pabrik, jangan pisahkan siasat unjuk rasa dengan siasat STOP PRODUKSI, karena sudah terbukti siasat unjuk rasa itu sudah tidak ampuh–kecuali sebagian besar buruh yang berunjuk rasa meninggalkan pabrik. Jadi, tuntutan premanisme harus disatu-paketkan bersama tuntutan kenaikan upah dan dengan satu siasat: STOP PRODUKSI. Dengan demikian, kemungkinan menang tuntutan premanisme pun akan lebih besar (apalagi premanisme itu sebenarnya dalangnya adalah kapitalis). Atau, bisa saja dipisah harinya dan tuntutannya, tapi siasatnya sama: STOP PRODUKSI. Jangan memamah-biak siasat yang sudah terbukti tidak ampuh; lebih baik berupaya meningkatkan kesadaran dengan lebih luas menjangkau buruh dan melatih militansi agar siasat yang lebih ampuh–yakni STOP PRODUKSI–menjadi lebih merata ke seluruh pabrik. Itu baru istiqomah, MILITAN, yakni lebih sabar, lebih ulet, lebih berani mencari siasat perjuangan yang lebih ampuh dan berjuang sampai akhir kemenangan. Sebenarnya, aku sudah gembira ketika ada teguran dan mekanisme untuk mendorong PUK besar tapi memble agar mengerahkan massanya–terlepas efektif atau tidaknya teguran dan mekanisme tersebut. Namanya juga latihan,” tulis Danial Indrakusuma di status Facebook-nya. (Sd)

Sebarkan..

Related Articles

Add Comment

close