Anggota TNI Kodim 1710 Pelaku Penembakan Warga Mimika

korban penembakan tni di papua
Salah satu korban yang ditembak oleh dua oknum TNI di Timika saat acara pukul Tifa. Jubi/Dok, Tabloidjubi.com.

Solidaritas.net, Timika – TNI Kodim 1710 menjadi pelaku atas penembakan terhadap warga Mimika yang tengah mengadakan acara syukuran dan pukul tifa menyambut suksesnya orang Mimika pertama yang meraih gelar doktor. Acara pukul tifa berakhir tragis setelah oknum TNI menembak mati warga Mimika, Jumat (28/8/2015) dini hari.

Sebelumnya acara pukul tifa di halaman Gereja Katolik Koperapoka, Kamis (27/8/2015) malam berlangsung dengan damai. Sepanjang jalan Koperapoka pukul tifa dijalani dengan penuh penghayatan dan rasa syukur dengan suasana batin yang aman dan damai. Acara itu dikawal oleh Orang Muda Katolik (OMK).

Acara menjadi kacau setelah dua orang tak dikenal datang pada acara tersebut. Warga menolak kedatangannya dan memintanya agar segera pulang karena keduanya sedang dalam keadaan mabuk. Kedua orang itu pergi dengan penuh emosi dan kemarahan.

Kembali mendatangi acara pukul tifa, keduanya membawa laras panjang dan pisau sangkur. Setelah terjadi tawar-menawar dengan penjaga kemanan, kedua orang tersebut mendobrak, lalu memaksa untuk masuk ke dalam acara pukul tifa.

Warga ketakutan, kedua orang tak dikenal itu menodongkan pisau dan laras panjang ke arah warga Mimika. Keduanya lalu keluar menuju jalan raya dan mengeluarkan tembakan.

Setelah dicari tahu, ternyata kedua orang tak dikenal sekaligus pelaku penembakan adalah oknum TNI Kodim 1710, mereka adalah Serka Makher dan Sertu Ashar.

Ulah brutal TNI itu mengakibatkan Imanuel Mailmaur (23) dan Yulianus Okoware (23) tewas. Sedangkan Marthinus Apokapo (24) mengalami luka di pinggang kiri dan Marthinus Imapula (25) luka di kaki akibat terkena peluru.

Beberapa korban lainnya yang juga mengalami luka-luka dirawat di Rumah Sakit Umum (RSU) di daerah Mimika. Data diri mereka tidak diketahui secara jelas karena aparat keamanan tidak mengizinkan warga mengambil data para korban.

“Aparat keamanan selalu saja menjadi biang segala konflik dan kekerasan, bahkan pembunuhan terhadap orang asli Papua selama ini,” kata Petugas Pastoral Keuskupan Timika, Papua, Frater Santon Tekege, Pr, dilansir dari tabloidjubi.com.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan