9 Petani di Sumut Jadi Korban Konflik Lahan dengan PTPN III

Solidaritas.net, Medan – Konflik lahan antara kaum petani dengan para pengusaha kembali terjadi. Kali ini, petani di Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara yang menjadi korban. Sebanyak sembilan petani mengalami luka-luka pada sejumlah bagian tubuhnya, akibat mengalami tindak kekerasan oleh pamswakarsa bayaran dan petugas keamanan dari PT Perkebunan Nusantara (PTPN) III Kebun Bandar Betsy, di Kecamatan Bandar Huluan, Simalungun.

petani kebun bandar betsy II
Pamswakarsa dan Security PTPN III Kebun Bandar Betsy II hadang petani yang berusaha mengambil alih lahannya.

Pengguna sosial media Facebook, Forum Komunikasi Masyarakat Agraris mengabarkan peristiwa itu terjadi pada Kamis (19/6/2015) pagi WIB yang lalu. Akun Facebook tersebut menyampaikan kronologis kejadian bentrok antara para petani dengan pamswakarsa dan petugas keamaan PTPN III Kebun Bandar Betsy II itu pada lamannya, Selasa (23/6/2015).

“Dari peritiwa penyerangan brutal tersebut, 9 orang petani menjadi korban,” seperti tertulis dalam kronologis kejadian tersebut, yang dikutip oleh Solidaritas.net, Selasa (23/6/2015).

Menurut keterangan tersebut, para petani yang jadi korban itu ternyata tidak hanya laki-laki, tetapi juga kaum ibu-ibu, bahkan sudah berusia tua. Kesembilannya adalah sebagai berikut:

  1. Sahat Siringoringo (50 tahun), laki laki; kepala bocor dan memar-memar di bagian badan.
  2. Ramli Sianipar (49), laki laki; kepala bocor dan memar di bagian tangan.
  3. Saut H Siahaan (49), laki laki; kepala bocor dan luka di bagian wajah.
  4. B Sagala (54), laki laki; kepala bocor dan memar wajah, serta tangan.
  5. Andi Sagala (22), laki laki; kepala bocor dan memar di wajah serta badan.
  6. Sijabat (35), perempuan; kepala luka dan memar di kaki.
  7. Siringo (50), perempuan; kepala luka dan memar di tangan.
  8. Abdul Malik (56), laki-laki; kepala luka dan memar tangan.
  9. Yakub Pardede (45), laki laki; kepala luka dan memar.

Peristiwa itu saat sekitar 100 petani akan memasuki lahan seluas 151 hektar yang berada di lokasi Afdeling 36 Nagori Naga Jaya, Kecamatan Bandar Huluan, pukul 09.00 WIB. Mereka meyakini lahan itu milik mereka yang dirampas negara saat rezim orde baru berkuasa. Namun, tiba-tiba seratusan anggota pamswakarsa bayaran dan petugas keamanan PTPN III menghadang di jalur jalan Simodong dan Kampung Tempel, Kecamatan Pematang Bandar.

Sekitar pukul 10.00 WIB, para petani berhasil masuk ke lokasi lahan tersebut, serta mulai membersihkan lahan untuk ditanami tanaman palawija dan lainnya. Karena kalah jumlah massa, para pamswakarsa bayaran dan petugas keamanan PTPN III mundur dari lahan itu. Namun, 30 menit kemudian, mereka kembali datang dengan jumlah yang lebih banyak, mencapai sekitar 300 orang, sambil membawa kayu berdiameter 5 cm dan panjang 80 cm.

“Tanpa diduga, mereka melakukan pemukulan secara membabi buta terhadap petani, baik laki-laki dan perempuan, sehingga menimbulkan korban luka ringan dan berat,” lanjutnya.

Setelah penyerangan itu, sekitar pukul 11.00 WIB, para petani pun bubar dan membawa rekan-rekannya yang terluka ke RSU Perdagangan. Sedang, sebagian lainnya ternyata juga dibawa oleh aparat kepolisian ke kantor Polsek Perdagangan untuk dimintai keterangan.

“Hal yang paling terlihat ganjil dalam peristiwa ini adalah pihak pamswakarsa bayaran dan sekuriti PTPN III tidak ada yang dimintai keterangan oleh pihak kepolisian,” pungkasnya.

Foto:

https://www.facebook.com/ForumKomunikasiMasyarakatAgraris/posts/949616391756219

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan