Terbaru

Editorial

Cari nama perusahaan...

Kapal Pengangkut TKI Tenggelam

Sabtu, 28 Januari 2017

Jakarta-Catatan buruk terkait dengan perlindungan terhadap TKI Indonesia bertambah. Kapal yang berangkat dari Tanjung Bemban, Batam menuju Malaysia tersebut  mengalami kecelakaan pada hari Senin, 23 Januari 2017.

Ilustrasi kapal tenggelam
Sumber foto: Pixabay.com
Data dari Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BP3TKI) Tanjungpinang menyebutkan hingga hari Jum’at (27/1/2017) sudah ditemukan 24 korban yang tak bernyawa

"Dari total jumlah korban itu, 17 orang berjenis kelamin laki-laki dan 7 perempuan. Proses identifikasi masih sedang berlangsung,"  demikian pernyataan resmi dari BP3TKI Tanjungpinang.

Bahkan jumlah korban tewas akibat karamnya Kapal Pancung (kapal kecil sepanjang 18 kaki) pengangkut Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di perairan Tanjung Rhu, Mersing, Johor, Malaysia terus bertambah.
Informasi tenggelamnya kapal diterima di ruang kendali utama (RKU) WFQR Lantamal IV Tanjungpinang dari ILO Malaysia.

Dari jumlah korban tewas, delapan sudah teridentifikasi dan enam diantaranya Jenazah siap dipulangkan ke kampung halamanya.

Jenazah yang siap dipulangkan adalah  Sayyideh, Hamidah, Suhana Binti Ponangi, Marto, Sulis Setyowati yang kesemuanya  asal Surabaya Jawa Timur, serta Lambertus Luan asal NTT.

Sebelumnya, kecelakaan serupa juga terjadi pada bulan November 2016 silam dengan total 93 korban,  37 penumpang ditemukan selamat,  3 penumpang ditemukan tewas. Sementara 53 penumpang lainnya belum diketahui nasibnya karena diduga tenggelam.

Penulis: Muhammad Aras. Kontak penulis di Facebook

*Bantu kami terus menyajikan informasi dengan berdonasi, KLIK DI SINI
Hubungi kami di BBM: 2BCF570E | Whats App/SMS: +6287785576150 | email: redaksi@solidaritas.net. Install aplikasi pembaca berita di Solidaritas.net Apps

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Kami sangat menghargai pendapat Anda, namun kami perlu memastikan komentar Anda tidak mengandung unsur kebencian SARA sehingga komentar Anda harus melalui proses moderasi.

Jangan lewatkan