Terbaru

Editorial

Cari nama perusahaan...

Kasus Prodi Farmasi Tidak Kunjung Usai, Mahasiswa Unima Galang Dukungan

Jumat, 30 September 2016

Manado - Mahasiswa Universitas Manado (Unima) mulai menggalang dukungan melalui petisi online. Petisi tersebut akan dikirim ke Presiden Republik Indonesia, Komisi X DPR RI, Komnas HAM RI, Rektor Unima, Kemenristek Dikti dan Universitas Negeri Manado. Ini adalah salah satu bentuk protes mahasiswa terhadap Unima atas ketidakjelasan Prodi Farmasi sebagaimana tertuang dalam surat edaran nomor 9271/UN41/PS/2016 yang menyebutkan Farmasi tidak diakui sebagai salah satu program studi (Prodi) di Unima.
Aksi mahasiswa Farmasi Universitas Manado
(Foro : Iss ) "CC-BY-SA-3.0"
 Salah seorang mahasiswa farmasi, Iss menyatakan akibat tidak diakuinya farmasi ada mahasiswa yang belum lulus disarankan pindah ke jurusan lain.

"Jangan mengintervensi mereka, mereka sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, Unima jangan lepas tanggung jawab," seru Iss.

Hingga saat ini sekitar 200 orang telah mendukung petisi tersebut. Dalam petisinya, mahasiswa Unima menuntut agar Unima segera mengurus izin pendirian Prodi Farmasi dan mengembalikan semua biaya pendidikan mahasiswa yang keluar selama kuliah apabila tidak berkenan mengurus izin Prodi, dan Unima diminta bertanggungjawab atas waktu mahasiswa farmasi yang terbuang percuma selama lebih dari lima tahun.

Sebelumnya mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Peduli Farmasi sudah dua kali melakukan aksi di Gedung Rektorat. Namun, pihak kampus belum memberikan kejelasan. Mereka hanya menyatakan akan segera mengurus izin, dan pada aksi kedua justru disarankan agar mahasiswa farmasi pindah ke jurusan kimia.


*Bantu kami terus menyajikan informasi dengan berdonasi, KLIK DI SINI
Hubungi kami di BBM: 2BCF570E | Whats App/SMS: +6287785576150 | email: redaksi@solidaritas.net. Install aplikasi pembaca berita di Solidaritas.net Apps

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Kami sangat menghargai pendapat Anda, namun kami perlu memastikan komentar Anda tidak mengandung unsur kebencian SARA sehingga komentar Anda harus melalui proses moderasi.

Jangan lewatkan