Jelang Hari Tani, Ratusan Mahasiswa Untad Nonton The Mahuzes

Palu – Menjelang hari tani ratusan mahasiswa Universitas Tadulako (Untad) menggelar nonton bareng dan diskusi film “The Mahuzes”, Kamis (15/9).

Suasana nonton fIlm The Mahuzes mahasiswa
Universitas Tadulako, Palu
Kredit : Aras “CA-BY-SS-3.0”.

 Koordinator pemutaran film Muhammad Aras mengatakan mahasiswa perlu menonton film dokumenter garapan jurnalis dan videografer Dandhy Dwi Laksono dan Suparta AZ, yang  bercerita tentang perubahan besar yang terjadi di Papua dengan program Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE Project) dan investasi kelapa sawit.

Hal ini membuat Suku Malind bermarga Mahuze memperjuangkan tanah ulayat dari ” serangan” tersebut. Suku Malind adalah kaum pemburu dan peramu, mereka tidak terbiasa dengan kegiatan bercocok tanam dan beternak. Namun, semua itu berubah sejak dicanangkannya MIFEE.

“Kami sengaja menagadakan acara ini menjelang Hari Tani 24 September, agar mahasiswa dapat memahami kondisi yang timpang,” ujar Muhammad Aras.

Film yang lahir dari rangkaian Ekspedisi Biru mengangkat adanya konflik
dan ketimpangan antara warga asli dengan industri kelapa sawit ini juga
menceritakan gempuran industri sawit di Papua, perusahaan sawit semakin
menjamur.

Proyek MIFEE ini seakan-akan membunuh masyarakat Papua secara tidak langsung. Dengan ditebangnya hutan-hutan untuk diubah menjadi lahan produktif untuk pertanian padi dan kelapa sawit, menjadikan Suku Malind di Merauke kehilangan tumpuan utamanya, lahan sagu.

Selain itu, terjadi juga sistem bagi hasil yang timpang antara Suku Malind (pemilik tanah) dengan perusahaan kelapa sawit (pengelola). Perusahaan menggunakan skema 80 : 20, dimana delapan puluh persen keuntungan diserahkan kepada perusahaan dan sisanya untuk pemilik tanah.

Dari tahun 1969- 2005, di Papua baru ada tujuh perusahaan kelapa sawit. Namun tahun 2014 jumlahnya telah mencapai 21 perusahaan, dengan 20 perusahaan lainnya dalam tahap siap beroperasi.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan