SKMP dan SI Gelar Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik

Pelatihan pembuatan pupuk organik (Foto: Sarinah)

Poso – Untuk mengajak masyarakat menjaga kelestarian alam dan mendukung pemuda meningkatkan produktivitas ekonomi, Solidaritas Kaum Muda Poso (SKMP) bekerjasama dengan Solidaritas Indonesia (SI) menyelenggarakan diskusi dan pelatihan pembuatan pupuk organik, Kamis (4/8/2016).

“Kami menyelenggarakan kegiatan diskusi dan pelatihan ini bertujuan untuk  mengajak masyarakat menggunakan pupuk organik demi menjaga kelestarian alam dan kesehatan masyarakat,” tutur ketua SKMP, Stevandi.

Selain itu, pelatihan pembuatan pupuk organik juga bertujuan untuk meningkatkan produktivitas ekonomi tanpa merusak lingkungan alam. 

“Kita sering mengabaikan profesi petani, padahal Inilah yang memberikan kita makanan. Jadi, kami merintis program mengajak pemuda untuk tidak gengsi menjadi petani. Kita harus mencari cara untuk meningkatkan hasil pertanian tanpa merusak keseimbangan alam,” tutur perwakilan SI, Sarinah

Kegiatan yang diadakan di aula penginapan Anggrek, desa Pendolo, Kecamatan Pamonan Selatan, kabupaten Poso itu dihadiri oleh 28 petani dan pemuda dari Desa Mayasari, Desa Pasirputih dan Desa Pendolo. Tidak hanya itu, SKMP dan SI juga menghadirikan dosen pertanian dari Universitas Sintuwu Maroso (Unsimar), Ridwan, Maria Amping dan Sentot dari Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Pamona Selatan.

Menurut Ridwan, kerusakan tanah diakibatkan oleh salah satu program revolusi hijau, yaitu penggunaan pupuk kimia pada masa lalu. Akibatnya, kandungan bahan organik tanah saat ini hanya 1 persen. Padahal, idealnya kandungan organik tanah harus sebesar 5 persen.

“Untuk menaikkan kandungan bahan organik satu hektar tanah sebesar 1 persen membutuhkan 15 ton pupuk organik. Jadi, bayangkan saja berapa ton yang dibutuhkan untuk menaikkan sampai 5 persen, sekitar 60 ton per hektar untuk mengembalikan kondisi tanah seperti pada tahun 80an,” jelasnya

Ridwan berharap agar masyarakat tidak mengharapkan hasil yang instan dari penggunaan pupuk organik karena pupuk kompos memerlukan waktu untuk menunjukan hasil yang melimpah. Dimana pada tahap awal kompos akan memperbaiki kondisi tanah terlebih dahulu, baru kemudian meningkatkan hasil produksi.

Sementara itu, penyuluh Maria Amping menekankan bahaya penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia. Ia mencontohkan, ibu hamil tidak boleh mengkonsumsi sayuran yang menggunakan pupuk kimia karena dapat mengakibatkan kerusakan otak janin.

“Pupuk kimia dapat digantikan dengan pupuk kompos. Kita bisa menggunakan pestisida nabati yang mudah dibuat atau dibeli,” ujarnya

Penyuluh Maria Amping juga menyatakan dukungan terhadap kegiatan tersebut karena dinilai sejalan dengan kebijakan nawacita Pemerintahan Presiden Joko Widodo di mana pembangunan dimulai dari daerah pinggiran, yakni pedesaan.

Di akhir acara disepakati untuk membangun kebun percontohan organik di masing-masing Desa agar masyarakat lebih sadar mengenai pentingnya penggunaan pupuk organik.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan