Alasan Mahasiswa UGM Mogok Kuliah

Aksi mahasiswa UGM (Foto: Kpo Prp Yogyakarta)
Yogyakarta –
Saat memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati setiap
2 Mei, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melakukan aksi mogok kuliah. Ribuan
mahasiswa memadati pelataran UGM, selain menuntut perubahan peraturan kampus,
mahasiswa juga menggugat penggusuran kantin dan menuntut tunjangan kinerja dibayarkan untuk
karyawan kampus.

Mahasiswa
menolak penggusuran kantin karena faktor historis dan kebutuhan. Kantin Bonbin
merupakan kantin yang paling murah dan menjadi ikon di kompleks Sosio Humaniora.
Walaupun terletak di samping FIB tapi bisa menghubungkan mahasiswa di luar
fakultas lain.
Awalnya
pihak rektorat menjanjikan untuk memperbaiki Bonbin karena luasnya yang kecil
dan kurang representatif, namun pada akhirnya pihak rektorat justru memutuskan Bonbin akan direlokasi karena lahannya akan dijadikan gedung dan shelter listrik UGM.
Gedung
tersebut hasil kerjasama UGM dengan Bank Indonesia. Dengan dalih kebersihan, kesehatan,
ekonomi, dan pembangunan, kantin Bonbin yang sangat dekat dengan mahasiswa
harus digusur. Hal ini menimbulkan perlawanan dari mahasiswa.
Mahasiswa
dan pedagang membuat Save Bonbin Movement (Gerakan Selamatkan Bonbin). Merespon desakan mahasiswa, pihak
rektorat memberikan opsi yang diklaim sebagai win win solution dengan merelokasi pedagang bonbin ke kantin UGM yang ada di lembah UGM dan
membuka kesempatan bagi pedagang Bonbin untuk berdagang di gedung baru yang ada
di tempat tersebut dengan syarat yang sebenarnya tak memungkinkan.
Solusi tersebut dinilai tidak menguntungkan para pedangan. Olehnya,
mahasiswa tetap meminta kantin bonbin tidak dipindahkan dan isu bonbin menjadi
salah satu tuntutan saat memperingati Hardiknas.
Tuntutan
lainnya, terkait karyawan UGM, sebelumnya karyawan UGM melakukan aksi sendiri untuk
menuntut diberikannya tunjangan kinerja yang sudah berbulan-bulan tidak diterima.

“Aksi
karyawan diblow up oleh mahasiswa,
kami menjelaskan bahwa karyawan juga mempunyai permasalahan dengan rektorat. Kawan-kawan
mengadvokasi isu ini dan memasukkanya ke dalam isu yang diusung saat Hardiknas,”
tutur salah seorang mahasiswa UGM, Bagas kepada Solidaritas.net,
Kamis (5/5/2016).

Seperti
diketahui, sekitar 6000an mahasiswa UGM perwakilan dari 18 fakultas dan satu sekolah vokasi memadati pelataran kampus melakukan aksi mogok belajar pada 2
Mei 2016. Ribuan mahasiswa itu, kata Bagas, diorganisir oleh Forum Advokasi
UGM, Forum Aksi UGM dan propaganda, juga dibantu Badan Eksekutif Mahasiswa-Keluarga Mahasiswa UGM. 
Itu
adalah bentuk kekecewaan mahasiswa terhadap pihak kampus yang tidak tanggap dan
sering membatasi kegiatan mahasiswa. Pihak
kampus juga terkesan otoriter dengan membatasi kegiatan organisasi dan politik
kampus.
Mahasiswa menduduki kampus UGM sampai malam hari
(Foto: Kpo Prp Yogyakarta)

“Terlebih
kemarin ada mahasiswa yang dikriminalisasi oleh pihak kampus terkait demo di
depan rumah rektor,” ujar Bagas.

Aksi
mahasiswa berlangsung sejak pukul 09.00 hingga 23.00WIB, sebanyak tiga kali rektor
menemui massa saat aksi berlangsung. Rektor meminta waktu dua minggu untuk menyelesaikan
tuntutan massa. Terkait hal ini, jika kebijakan rektorat tidak memuaskan mahasiswa dan karyawan, maka aksi massa kemungkinan besar akan kembali terjadi.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan