Fakta Dibalik Motor Ninja Buruh

Solidaritas.net | Khalayak media sosial (medsos) dan media online tercengang dengan penampakan motor Ninja 250 cc yang dipakai oleh buruh saat berdemo. Motor Ninja buruh ini ditaksir seharga Rp. 50 jutaan.

buruh naik motor ninja
Buruh demo naik motor Ninja. ©Instagram.com/TMCPoldaMetro

Buruh dianggap tak layak dan tak tahu diri dengan memiliki motor Ninja. Sama seperti pengemis yang makan di restoran mahal, dianggap tak pantas. Hanya orang-orang kaya, orang-orang yang berpenghasilan melimpah, yang layak menikmati segala nikmat dunia.

Solidaritas.net berusaha mencari tahu profil buruh yang menggunakan motor Ninja dengan mewawancarai buruh di daerah Cikarang. Berikut faktanya:

1. Kredit

Jarang sekali ada kasus buruh mampu membeli motor seharga puluhan juta secara tunai. Kredit adalah jalan mendapatkan barang mahal bagi buruh, termasuk motor.

“Biasanya mereka di-DP-in (uang muka-ed) oleh orang tuanya. Hasil dari warisan atau jual tanah,” kata Boyo, buruh asal Cikarang yang masih bekerja di kawasan Delta Silicon, Kamis (15/1/2015).

Menurutnya, buruh sangat jarang yang memiliki motor Ninja 250 cc (4-tak), karena harganya sangat mahal.

“Biasanya hanya yang 2-tak (150 cc), yang harganya 30 jutaan,” imbuhnya lagi.

2. Lajang

Biasanya, buruh yang masih melajang yang memiliki motor Ninja, karena belum memiliki tanggungan anak-isteri. Selain itu, motor Ninja ini mampu menunjang penampilan masa muda yang hanya sekali seumur hidup.

“Buruh yang punya motor Ninja kebanyakan statusnya lajang,” kata Tarsono, buruh pabrik komponen otomotif di kawasan Jababeka 2 Cikarang, yang juga pengurus serikat di pabriknya ini.

3. Buruh “Pribumi”

Istilah “buruh pribumi” merujuk pada buruh yang direkrut dari penduduk setempat. Buruh yang berasal dari penduduk setempat masih memiliki banyak kerabat di daerah kawasan industri. Meski mereka adalah orang-orang yang dikalahkan oleh desakan investasi, tapi mereka bertahan dengan mengembangkan sentimen “penduduk asli”. Mereka menjual tanah kepada pengembang properti dan membuka usaha kontrakan maupun usaha lainnya.

“Banyak buruh pribumi yang punya motor Ninja, bahkan mobil, karena warisan orang tua atau dari menjual tanah, atau orang tuanya punya kontrakan. Buruh yang punya mobil ini biasanya punya usaha sampingan dan mobilnya direntalin (disewakan),” kata Boyo.

Mereka juga kerap menuntut keistimewaan untuk mendapatkan jatah pekerjaan dan limbah industri. Namun, tidak semua dari mereka lantas menjadi kaya. Hanya segelintir tokoh masyarakat yang mendapatkan cecaran keuntungan pengusaha.

Bagi buruh “pribumi” timbul semacam perasaan “aman” karena berada di tengah-tengah kerabatnya. Mereka tak begitu khawatir berkurang penghasilan karena kreditan motor Ninja. Seringkali, mereka sudah punya rumah tinggal sendiri dan sedikit tanah.
Tarsono juga membenarkan buruh yang asalnya dari penduduk setempat yang kerap memiliki motor Ninja.

“Buruh pribumi, kan, punya banyak keluarga di sini. Mereka menghabiskan uangnya untuk bayar cicilan tidak masalah, karena mereka masih punya orang tua dan keluarga besar yang menanggung. Kalau buruh pendatang, ya, susah,” ujarnya.

Buruh-buruh yang berasal dari luar Cikarang juga ada yang yang memiliki motor Ninja, namun mereka biasanya disubsidi oleh orang tuanya di kampung yang berkecukupan.

“Bahkan ada buruh yang dari kampungnya bawa motor Ninja. Kenapa saya tahu, karena plat motornya itu plat motor dari daerah,” jelas Boyo.

Secara keseluruhan, jumlah buruh beruntung yang memiliki motor Ninja hanya sekitar 4-5 % saja. Jumlah buruh di Cikarang ada sekitar 1,5 juta orang yang tersebar di tujuh kawasan industri utama.

“Contohnya di pabrik saya, hanya sekitar 10-an orang yang memiliki motor Ninja dari 300 buruh,” tandas Boyo.

Sebagian besar buruh masih menggunakan motor bebek yang dibeli dengan kredit selama rata-rata tiga tahun. Menurut Budi Kurniawan, buruh kontrak yang sudah malang-melintang di dunia perkontrakan selama 12 tahun, menyicil motor membuat buruh harus banyak berhemat.

“Yang biasanya bisa makan lauk dengan bebek, harus mengirit diganti dengan teri, misalnya, gara-gara harus bayar cicilan motor. Buruh harus mengencangkan ikat pinggang, bahkan ikat leher. Tapi mau ngga’ mau harus nyicil motor karena mahal kalau harus naik angkot dan ojek. Apalagi BBM naik terus, ongkos angkot dan ojek juga naik terus,” kata yang sudah bekerja di 10 pabrik sebagai buruh kontrak dan tak pernah diangkat menjadi buruh tetap ini. Ia memiliki pengalaman menyicil motor bebek selama dua tahun.

Meski ada buruh yang bisa menyicil motor Ninja, bukan berarti buruh sudah sejahtera. Apalagi jumlah mereka yang mampu menyicil motor jenis ini sangat kecil. Mereka berhak berdemo, bahkan buruh yang kondisi kerjanya lebih baik dapat saja melakukan demonstrasi dengan tujuan solidaritas. Contohnya, tahun 2012, banyak buruh berstatus tetap yang ikut turun ke jalan untuk memperjuangkan nasib buruh outsourcing yang kondisi kerjanya lebih buruk.

Masyarakat dipengaruhi untuk menilai buruh sebagai makhluk yang harus melarat. Politik bahasa selama 32 tahun Orde Baru mengkonotasikan buruh sebagai kuli atau pekerja kasar, seperti kuli angkut dan pekerja bangunan disebut ‘buruh’, sementara pekerja pabrik disebut ‘karyawan’. Baru tahun 2010, penggunaan istilah ‘buruh’ untuk pekerja pabrik kembali meluas di Cikarang. Sebelum tahun 1965, buruh adalah sebutan untuk semua pekerja yang menerima upah. Pengusaha yang banyak untung dan kaya raya dianggap wajar, tapi buruh yang bekerja 8-12 jam sehari dianggap wajar jika hidupnya pas-pasan.

Selain itu, manusia abad 21 sudah sewajarnya jika mampu mengakses dan transportasi yang layak dan modern. Buruh di negeri maju saja sudah dianggap wajar jika memiliki mobil, tapi di Indonesia buruh bermobil atau bermotor Ninja dianggap tidak tahu  diri.

***

activate javascript

activate javascript

activate javascript

activate javascript

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan