Apa Sebab Buruh Rentan Mengalami Depresi?

Solidaritas.net – Setiap orang pasti memiliki target dalam pekerjaannya. Begitu juga para buruh yang tentunya diberi beban kerja oleh pengusaha di pabrik. Namun, ternyata tidak sedikit yang mendapatkan beban kerja berlebihan dari yang seharusnya, sehingga, menimbulkan tekanan kejiwaan yang besar.

Ilustrasi depresi. Kredit: Pinterest.com

Faktanya, beban kerja yang terlalu banyak juga bisa menyebabkan depresi berat. Depresi merupakan gangguan mental yang akan mempengaruhi kehidupan seseorang. Masalah kesehatan mental ini bisa membuat orang yang mengalaminya akan merasa sangat putus asa, bahkan bunuh diri. Seringkali, depresi dapat menghancurkan keharmonisan rumah tangga seseorang.

Contoh kasus dampak depresi yang pernah terjadi di kalangan buruh adalah pembunuhan yang dilakukan oleh seorang buruh pabrik pipa PT Mitsuba, Cikarang, pada Januari 2014 lalu. Tragisnya, ia membunuh anaknya sendiri dan mencoba membunuh istrinya. Tersangka mengaku mengalami depresi, karena harus memenuhi target dalam pekerjaan. Jika tidak terpenuhi, maka ia akan dipecat.

Cerminan depresi yang lain adalah sering marah-marah, mencaci maki, berkata kotor dan cenderung berpikir pendek sehingga melakukan fitnah. Pelampiasan kemarahan biasanya diarahkan kepada mereka yang dianggap lebih lemah, seperti anak-anaknya, bawahan dan orang lain yang dianggap tidak penting bagi karirnya.

Ada empat hal penyebab utama depresi yang dialami oleh buruh pabrik, yakni:

1. Tekanan pekerjaan

Tekanan pekerjaan menjadi salah satu yang paling banyak menyebabkan depresi, yang diawali dengan stres. Beban kerja yang terlalu banyak akan mengakibatkan tekanan kejiwaan yang besar dalam menjalani pekerjaan. Belum lagi kewajiban untuk memenuhi target dari perusahaan, yang disertai ancaman pemecatan jika tidak terpenuhi..

Hal ini sudah terbukti dalam penelitian yang dilakukan Jianli Wang, seorang profesor dari University of Calgary di Alberta, Kanada, dengan meneliti 2.700 pekerja pria dan wanita. Hasilnya, sekitar 11 persen pekerja pria yang bekerja fulltime (35-40 jam seminggu) dan mendapatkan tekanan kerja lebih banyak ternyata lebih rentan mengalami depresi.

2. Sering lembur

Bekerja terlalu lama atau sering lembur juga dapat meningkatkan risiko mengalami depresi. Salah satu penelitian di Inggris menemukan fakta bahwa orang-orang yang bekerja rata-rata minimal 11 jam setiap harinya memiliki peluang 2,5 kali lebih tinggi mengalami depresi, dibandingkan dengan mereka yang bekerja sesuai jam kerja normal antara 7-8 jam per hari.

Resiko depresi yang terjadi berhubungan dengan masalah kurang tidur akibat sering lembur. Menurut Direktur Center for Circadian Medicine, dr Matthew Edlund, jika seseorang tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup, maka otak tidak punya waktu untuk memperbaiki sel-sel otak yang rusak, sehingga akan mengganggu kinerja otak yang menyebabkan depresi.

3. Kemiskinan

Buruh yang sudah bekerja habis-habisan dan lembur berjam-jam, namun menemukan penghasilannya tidak cukup memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya sehari-hari. Sebuah studi yang dipublikasikan oleh Gallup-Healthways Well-Being Index (2012) menyebutkan mereka yang hidup di bawah garis kemiskinan berpotensi mengalami depresi dua kali lebih tinggi ketimbang yang hidup berkecukupan.

4. Kesepian

Banyak buruh pergi bekerja di pabrik dari pagi hari saat matahari belum muncul dan pulang saat malam hari karena harus lembur. “Pergi gelap, pulang gelap”, demikian ungkapan buruh dalam menggambarkan kerja lembur. Buruh sebenarnya adalah makhluk yang kesepian. “Depresi adalah penyakit kesepian,” demikian kata Andrew Solomon, penulis Guardian.

Situasi kerja dengan waktu yang berkepanjangan membuat buruh tidak memiliki kesempatan mengembangkan pergaulan, silaturahmi dan mendapatkan afeksi untuk meringankan penderitaan hidup. Tidak heran jika banyak buruh yang terlibat di media sosial, terutama Facebook, untuk mengurangi kesepian.

Namun, menurut penelitian psikolog dari Universitas Michigan, AS, Ethan Cross, semakin banyak orang menggunakan Facebook sebetulnya mereka semakin kesepian. Tentu saja, hal ini berlaku bagi mereka yang menggunakan Facebook untuk menjalin hubungan antarpribadi, bukan bisnis dan lembaga. Hal ini membenarkan penelitian sebelumnya pada tahun 1998 yang dilakukan oleh Robert Kraut dari Universitas Carnigie Mellon, AS. Menurut Kraut, orang yang menggunakan internet dan terhubung secara online untuk pertama kalinya akan merasakan kebahagiaan dan keterhubungan selama dua tahun pertama. Setelahnya, perasaan ini terus menurun menjadi semakin kesepian dan bahkan kemarahan.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan