Penurunan UMK Ril Karena Kenaikan Harga BBM

Perhitungan Buruh Tekor
Oleh: Sarinah*
Harga bensin tahun 2013 = Rp 4.500
Dengan UMK Bekasi 2013 sebesar Rp 2.002.000, maka bisa membeli bensin sebanyak: 2.002.000/4.500 = 444,8 liter.
Bensin mengalami kenaikan pada pertengahan tahun 2013 Rp 6.500
Dengan UMK Bekasi 2014 sebesar Rp Rp2.447.445, maka bisa membeli bensin sebanyak: 2.447.445/6.500 = 376,53 liter.

Jadi, terjadi penurunan upah ril sebesar : 444,8 – 376,5 = 68,3 liter, maka persentasenya adalah (68,3/444,8) x 100 % = 15,3 %.
Maka, pehitungan UMK untuk sama dengan sebelum kenaikan BBM adalah 444,8 liter x 6.500 = Rp 2.891.200,-
——–
Faktanya persentase kenaikan ongkos angkot lebih tinggi daripada persentase kenaikan harga BBM itu sendiri.
Ongkos Angkot yang biasanya pada tahun 2013 = Rp 2000,- naik menjadi Rp 3000,- setelah kenaikan BBM.
UMK 2013 = Rp 2.002.000,
Jadi, dengan UMK sebesar itu, maka kita bisa naik angkot sebanyak Rp 2.002.000/2.000 = 1001 kali
UMK 2014 = Rp2.447.445.
Dengan UMK sebesar itu, maka bisa naik angkot sebanyak Rp2.447.445/3000 = 815,85 kali.
Jadi, terjadi penurunan upah ril sebesar: 1001 – 815,85 = 185,18.
Persentase penurunan upah ril adalah (185,18/1001) x 100 % = 18,49 %.
Maka, pehitungan UMK untuk sama dengan sebelum kenaikan ongkos angkot adalah 1001 x 3.000 = Rp 3.003.000,-
Sementara UMK hanya Rp2.447.445.
***
Foto: Buruh Jawa Timur menuntut upah, 31 Oktober 2013 (Kredit: Ningtias)

* Juru Bicara Solidaritas Buruh, Anggota Grup Belajar Ekonomi dan Politik, dan Jurnalis di Solidaritas.net

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan