Mantan Diktator Mesir, Husni Mubarak Dibebaskan

Militer yang mengambil keuntungan terhadap demonstrasi anti Mursi semakin menunjukkan wajah aslinya dengan adanya pembebasan mantan diktator Mesir, Husni Mubarak. Dilansir dari usatoday.com, Husni Mubarak dibebaskan dari segala tuduhan, termasuk pembantaian demonstran dan korupsi.

Namun, Al Jazeera, memiliki sumber lain yang menyebutkan kalau mantan pemimpin Mesir itu belum bebas dari segala tuduhan. Mubarak bebas dari penjara sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut mengenai kasus korupsi yang melibatkan dirinya. Ia akan kembali disidang pada Minggu 25 Agustus 2013.
Padahal, Juni lalu Mubarak telah divonis penjara seumur hidup. Setelah itu, kondisi kesehatannya dinyatakan terus memburuk.
Mubarak tumbang dari kursi kepresidenan pada Februari 2011 setelah demonstrasi besar-besaran rakyat Mesir sejak awal tahun tersebut.
Mesir Masih Membara
Hingga kini, gejolak di Mesir tak kunjung reda. Presiden Mohamed Mursi yang terpilih pada Pemilu Mesir bulan Juni 2012, kembali diprotes oleh gelombang demonstrasi besar-besaran pada Juni 2013 lalu.
Kelompok Ikhwanul Muslimin (IM) pendukung Mursi menolak tuntutan tersebut. Mereka menyerang demonstran, bahkan dengan menggunakan kelompok sipil bersenjata. Namun, rakyat yang anti Mursi terlampau besar. Pada puncaknya, 13 juta rakyat Mesir berkumpul di lapangan Tahrir menuntut penurunan Mursi.
Rakyat menilai Mursi telah mengkhianati mandat yang diberikan oleh rakyat. Mursi sama saja dengan Mubarak. Malah lebih buruk karena inflasi dan kemiskinan meningkat. Selain itu, Mursi dinilai pro Amerika karena menerima utang luar negeri dari AS.
Dalam surat terbuka Abdurrahman Yusuf al-Qardhawi  kepada ulama yang juga ayahnya sendiri, Dr. Yusuf al-Qadhrawi, menolak fatwa ayahnya yang meminta rakyat setia pada Mursi. “Dia (Mursi) telah melakukan rekonsiliasi dengan negeri biadab (Israel) dan dengan para antek Mubarak, dan para pengusaha anak buah Mubarak, serta dengan berbagai kebobrokan tersembunyi dari rezim Mubarak. Bahkan dia berusaha untuk menempatkan para antek Mubarak itu di instansi pemerintahan, dan mendekatkan mereka ke Jamaahnya”, kata Abdurrahman dalam suratnya.
Menurutnya juga, Mursi membuat Kepresidenan seolah-olah hanya menjadi cabang dari kekuasaan Ikhwanul Muslimin.
Pihak militer yang dipimpin oleh Jenderal Abdel Fattah al-Sisi kemudian mencuri gerakan rakyat untuk melancarkan kudeta terhadap Mursi. Demonstrasi anti Mursi mereda.
Kelompok pro Mursi melakukan protes, namun jumlahnya tidak terlampau banyak. Militer bertindak brutal dengan menyerang kelompok pro Mursi secara membabi buta. Apalagi kelompok pro Mursi melakukan provokasi dengan kekerasan sejak awal, termasuk dengan menyerang kelompok anti Mursi. Kelompok Ikhwanul Muslimin  (IM) terus melancarkan perlawanan sengit, bahkan dengan senjata.
Hingga saat ini, 900 orang tewas dalam gejolak di Mesir yang terbaru. Sementara, pihak oposisi belum memberikan posisi yang jelas selain mengutuk kekerasan yang dilakukan aparat militer Mesir.
Langkah yang bisa kembali dilakukan oleh pihak oposisi adalah kembali turun ke jalan untuk menolak Militer dan Mursi sekaligus. Hanya saja salah satu kelemahan gerakan oposisi Mesir adalah lemahnya kepemimpinan politik. Ini akan belum selesai hingga kelemahan ini dipecahkan.
Ciri dari gerakan yang berbasis pada pengerahan mobilisasi spontan (kebanyakan via media sosial) akan selalu mengalami persoalan kepemimpinan massa, sehingga sulit membangun suatu kesatuan tindakan politik.

Sebarkan..

Tinggalkan Balasan